tips belajar fotografi secara otodidak

Bisakah Belajar Fotografi Secara Otodidak?

29 views

Mungkin pertanyaan ini banyak bergelayut di benak banyak orang. Selama ini memang tertanam stigma atau image bahwa fotografi adalah sebuah bidang “khusus” dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang berpengetahuan “khusus” pula. Oleh karena itu, banyak yang ragu belajar fotografi secara otodidak itu bisa dilakukan oleh semua orang.

Kenyataannya tidak demikian. Fotografi adalah sesuatu yang sangat bisa dipelajari dengan sistem DIT (Do It Yourself = Kerjakan Sendiri) alias secara otodidak.

Paling tidak, seorang maestro fotografi Indonesia, Arbain Rambey, yang juga Redaktur Foto Harian Kompas, pernah mengatakan bahwa semua orang bisa menjadi fotografer. Ia berpendapat bahwa dunia masa kini memberi peluang besar bagi semua orang dari semua kalangan untuk ikut berkecimpung di dalamnya.

Murahnya mendapatkan kamera adalah salah satu alasannya. Padahal, kamera adalah inti dari fotografi. Kamera adalah alat utama. Seorang fotografer tidak akan bisa memotret tanpa ada kamera. Nah, sekarang bayangkan dimana bisa dikata hampir semua orang di Indonesia memiliki paling tidak sebuah kamera di tangannya.

Tidak percaya?

Coba lihat handphone atau smartphone di tangan Anda. Apakah ada kamera di dalamnya? Hampir pasti ada. Justru sulit menemukan HP yang tidak memiliki kamera dijual di masa kini. Saya mengalaminya sendiri ketika membeli handphone non kamera untuk dibawa anak saya ke sekolah karena peraturannya tidak boleh membawa handphone berkamera. Sulit sekali menemukan toko yang menjualnya.

Jadi, apa yang dikatakan sang maestro tidak salah. Peluang itu ada. Tetapi, tetap saja stigma bahwa fotografi itu rumit masih sulit lepas dari pemikiran banyak orang hingga banyak yang berpikiran perlu mendapat “pendidikan” tertentu untuk bisa menguasainya.

Kenyataannya tidak demikian.

Anda bisa belajar fotografi secara otodidak atau belajar sendiri. Serius. Saya sendiri mendapatkan peningkatan kemampuan dalam mengambil foto dan momen tanpa melalui kursus atau pendidikan khusus. Semuanya dilakukan dan dipelajari sendiri.

Hasil-hasil foto itu bisa dilihat pada blog ini. Tentunya belum sekelas Pak Arbain Rambey, masih jauh sekali gap-nya, tetapi dibandingkan pertama kali memulai, saya sendiri merasa ada perbaikan dalam skill dan kemampuannya.

Bagaimana caranya?

belajar fotografi secara otodidak 2

Cara Belajar Fotografi Secara Otodidak (Belajar Sendiri)

Ini cara saya belajar fotografi tanpa mengikuti kursus atau pendidikan formal dalam bidang ini.

1) Beli Kamera

Mau tidak mau. Inti dari fotografi selain manusianya adalah sebuah “kamera’. Tanpa itu bisa dikata tidak mungkin mempelajari fotografi dengan baik.

Saya tidak bilang membeli “kamera’ dalam artian harus DSLR (Digital Single Lens Reflex) atau Mirrorless, kameranya para penggemar fotografi. Tidak sama sekali tidak.

Pertama kali mulai perjalanan memotret, saya hanya menggunakan kamera smartphone jadul Xperia M, yang hanya memiliki resolusi 5 Megapixel saja.

Hasilnya?

Memotret dengan smartphone
Istana Bogor – dipotret dengan Xperia M

Not bad. Bukan begitu?

Jika Anda mampu memiliki uang lebih, tentunya akan lebih baik jika Anda membeli paling tidak kamera kelas pemula, tetapi jika tidak ada, manfaatkan kamera apapun yang ada di tangan. Apalagi smartphone masa kini, kebanyakan memiliki lensa yang bagus dan resolusi yang tinggi.

Itu pun sudah cukup sebagai permulaan. Banyak hal yang bisa dipelajari bahkan dengan sekedar kamera smartphone.

2) Banyak Membaca (Artikel Tentang Fotografi)

“Buy book not gear”. Beli buku bukan peralatan (kamera). Itu yang dikatakan Eric Kim, seorang maestro fotografi jalanan yang sudah mengadakan workshop keliling dunia.

Ia menekankan pentingnya mencari pengetahuan.

Tidak berarti benar-benar harus membeli buku tentang fotografi untuk bisa belajar fotografi secara otodidak. Yang terpenting adalah mencari pengetahuan tentang hal itu.

Seharusnya tidak masalah karena banyak sekali blog atau website yang menyediakan tutorial tentang fotografi. Pengetahuannya tersedia banyak, dan gratis. Yang diperlukan adalah kemauan untuk membacanya.

3) Lakukan Secara Bertahap

Masalah utama manusia zaman sekarang adalah mentalitas instan yang ingin cepat bisa dan mahir. Padahal tidak demikian.

Arbain rambey sendiri menekuni dunia fotografi sejakmasa Sekolah Menengah Pertama (lahir di tahun 1961) . Namanya mulai mencuat setelah di pertengahan tahun 1990-an ketika menggantikan Kartono Riyadi, Redaktur Foto Kompas sebelumnya.

Bayangkan waktu yang diperlukan.

Nah, pada saat membaca teori-teori fotografi, jangan melahap sekaligus. Lakukan secara bertahap. Ketika belajar tentang komposisi, yang banyak sekali poin-nya, ambil satu persatu. Apakah tentang Rule of Thirds untuk membantu penempatan obyek dulu atau tentang komposisi warna.

Setiap belajar satu teori, imbangi dengan praktek. Luangkan waktu untuk melakukan mempraktekkan sendiri apa yang dipelajari.

Lihat hasilnya, sudah memuaskan atau belum. Lakukan berulang hingga pada akhirnya kita merasa “cukup” sebelum melangkah ke teori berikutnya. Ulangi proses terus menerus.

belajar fotografi secara otodidak

4) Sering-sering melihat foto karya fotografer lain

Ya. Kunjungi sebanyak mungkin website atau blog milik para fotografer terkenal. Perhatikan detail-detail pada fotonya.

Temukan mengapa foto itu menarik bagi Anda. Apakah karena warnanya yang berani? Apakah karena subyeknya yang memang unik? Apakah momennya?

Kemudian bandingkan dengan hasil karya kita sendiri. Mengapa foto kita terkesan “biasa” saja? Mengapa begini dan mengapa begitu?

Semakin sering melihat foto-foto, mata kita akan terbiasa dan semakin lama akan semakin terlatih untuk menemukan banyak hal dalam sebuah foto.

Semua gratis karena banyak sekali photoblog atau blog foto di dunia maya. Yang diperlukan hanyalah kemauan untuk membaca melihatnya.

5) Pelajari Post Processing atau Photo Editting

Setiap foto akan selalu melewati yang namanya post processing alias proses yang dilakukan di laur kamera. Bahkan, sejak masa belum ada kamera digital (ingat tentang dark room atau kamar gelap untuk memproses negatif film?).

Jadi, pelajari.

Banyak tutorial tentang hal ini di internet. Cari! Software atau perangkat lunak untuk melakukannya pun tersedia di internet, dan banyak yang GRATIS. Tidak perlu mengeluarkan uang. Saya menggunakan Photoscape, Picasa 3 dan beberapa yang lain untuk melakukan editting pada foto-foto.

Mau berbayar pun banyak sekali.

Yang manapun, pelajari dan juga tekuni. Kebanyakan foto yang beredar di dunia maya tidak 100% merupakan hasil kamera saja tetapi juga sudah melewati post processing.

6) Lakukan Hunting Foto

Berlatih Memotret Bisa dimana saja - Foto kucing Ngintip

Ya. Hunting foto adalah satu hal yang akan banyak sekali membantu dalam belajar fotografi secara otodidak.

Dengan begitu, kita belajar banyak hal, seperti pencahayaan di pagi dan sore hari. Kemudian, bagaimana mengatasi kondisi minim cahaya saat malam hari.

Hunting foto bisa memperluas wawasan dan menghadirkan tantangan dan masalah yang harus dipecahkan saat memotret. Semakin sering melakukannya, semakin meluas wawasan yang kita dapatkan tentang banyak hal. Semakin mahir juga kita menerapkan berbagai teori.

Juga, bisa membantu kita menemukan “passion” dan “genre fotografi” yang cocok dengan karakter dan gaya memotret kita. Yang pasti, kita juga bisa mempraktekkan berbagai teori dan menterjemahkannya dalam tindakan.

Luangkan waktu untuk melakukan hunting foto. Tidak perlu jauh-jauh, lakukan saja di sekeliling kompleks atau di kota dimana Anda tinggal.

Bisa mencegah kebosanan juga lho!

7) Pamerkan Foto Anda!

Masih jelek sekali! Malu!

Ungkapan-ungkapan seperti itu harus dibuang jauh-jauh. Tidak akan membuat kita maju.

Memang, sudah pasti akan ada kritik datang. Bukan tidak mungkin cemoohan hadir, tetapi bukankah itu akan menjadi umpan balik untuk menilai sejauh mana perkembangan kita dalam memotret. Komentar dan pandangan orang lain bisa dijadikan tolok ukur untuk memperbaiki berbagai kesalahn yang terjadi.

Dengan begitu, maka kita bisa terus mengoreksi yang salah dan kemudian melangkah menjadi lebih baik lagi.

Kalau perlu ikuti lomba foto. Tidak masalah tidak menang, tetapi dari situ kita bisa belajar banyak dari mereka yang menang. Apa yang diminati “masyarakat” dan mana yang tidak.

8) Bergabung Dengan Komunitas Fotografi

Fotografi bukanlah sesuatu yang seharusnya mendorong orang menjadi terisolir dari manusia lainnya. Justru, fotografi seharusnya mendorong orang untuk rajin berkomunikasi dengan yang lain.

Bergabung dengan komunitas fotografi, orang-orang yang menggemari hal sejenis, akan sangat membantu. Kita bisa berkomunikasi dan menanyakan tentang hal-hal yang tidak kita pahami kepada yang lebih tahu.

Bisa juga mendapatkan informasi tentang kamera yang baik, dimana harus servis kamera, dan sebagainya. Bahkan, tentunya bisa bergabung dalam acara hunting foto yang kerap diadakan.

Lagi pula, menambah teman itu tidak ada salahnya kan? Sangat menyenangkan bahkan.

Decisive Moment

Itulah yang saya lakukan untuk belajar fotografi secara otodidak.

Memang masih jauh sekali hasilnya dari yang diharapkan, tetapi setidaknya, hingga saat ini, cukup banyak foto yang dihasilkan oleh jepretan saya mendapatkan penilaian bagus. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan ketika saat memulai dulu. Foto yang miring sudah berkurang banyak. Subyek foto sudah semakin jelas, dan banyak hal lain yang menunjukkan adanya perbaikan.

Paling tidak, setiap ada kegiatan di lingkungan rumah, dimana saya tinggal, banyak orang akan mengandalkan saya untuk merekam momen-momen mereka. Sebuah indikasi bahwa perbaikan skill dan kemampuan sudah mendapatkan pengakuan.

Nah, itulah mengapa saya percaya bahwa apa yang dikatakan Arbain Rambey, sang maestro fotografi jurnalistik benar.Belajar fotografi secara otodidak itu sangat mungkin.  Semua orang bisa menjadi fotografer. Yang diperlukan adalah kemauan dan kekonsistenan dalam belajar dan belajar.

Cobalah cari dan temukan Vivian Maier di Google, Anda akan menemukan fakta tentang hal itu.

Gallery for Bisakah Belajar Fotografi Secara Otodidak?