Dua Fungsi Kamera, Dua Kategori Fotografi, Dan Gelar Fotografer

Dua Fungsi Kamera Dua Kategori Fotografi 2

Banyak sekali perdebatan tentang apa itu fotografi dan siapa yang berhak mendapatkan label fotografer. Apakah hanya mereka yang menekuni usaha menghadirkan keindahan secara visual saja? Ataukah semua pemegang kamera berhak menyandang predikat itu?

Perdebatan yang tidak akan ada ujungnya.

Sebenarnya hal itu tidak perlu diperpanjang kalau kita mau melihat dua fungsi kamera di masa sekarang. Fungsi kamera ini pada akhirnya melahirkan dua kategori fotografi.

Dua Fungsi Kamera dan Dua Kategori Fotografi

1. Sebagai perekam momen

Sejarah awalnya memang menunjukkan bahwa kamera dilahirkan untuk membantu manusia merekam momen-momen dalam kehidupan mereka. Manusia ingin mempunyai alat yang bisa menghadirkan momen-momen terkait kehidupan mereka dalam bentuk visual dan bukan hanya sekedar kata-kata.

Pada saat lahirnya, memang sudah ada yang namanya menggambar dan melukis, tetapi hal itu sering dianggap kurang memberikan gambaran sesungguhnya tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Dari sanalah ide yang melahirkan kamera pertama di dunia, kamera Obscura.

Fungsi kamera yang ini melahirkan kategori fotografi yang bersifat “dokumentasi”. Menyimpan catatan. Kamera berperan merekam segala sesuatu dalam bentuk visual.

2. Sebagai alat penghasil karya seni

Dalam perkembangannya, manusia menemukan bahwa kamera pun bisa menghasilkan foto-foto yang membangkitkan rasa keindahan dalam dirinya.

Mereka menemukan bahwa pemegang kamera kemudian bisa menghasilkan karya yang tidak kalah memukaunya dengan lukisan. Bahkan, hal itu menjadi lebih mudah dilakukan karena tidak perlu keahlian khusus memadu cat dan menggoreskan kuas. Mereka hanya perlu mengoperasikan kamera untuk menghasilkan karyanya.

Fungsi kamera yang satu ini lah yang kemudian menjadi dasar lahirnya definisi fotografi adalah melukis dengan cahaya. Melukis adalah sebuah kegiatan bersifat seni dan penuangan ide.

Lahirlah kategori fotografi yang bersifat seni. Foto tidak lagi dipandang sebagai sekedar media dokumentasi, tetapi dipandang sebagai karya seni.

Disinilah masalahnya lahir.

Di masa sebelum lahirnya kamera smartphone, kedua kategori ini terpisah dengan sangat jelas. Batasannya bisa terlihat dengan baik. Ada dua kategori fotografer yang dilahirkan, yaitu.

1)

Seorang yang hanya sekedar berniat merekam momen-momen dalam kehidupannya akan memilih kamera kompak yang murah. Toh tujuannya mungkin hanya sekedar merekam foto kembang tumbuhnya anak mereka atau acara-acara tertentu saja (kecuali para wartawan dan juru foto jurnalistik)

Mereka tidak akan peduli tentang teknik-teknik yang memukau karena inti dari foto mereka adalah kenangan dan memori yang ada pada fotonya sendiri. Mau miring, mau agak blur, mau tidak terlalu fokus, bukanlah masalah. Selama foto tersebut bisa membangkitkan memori dalam dirinya, foto itu tetap bermakna dan berharga.

Kalangan ini tidak akan mau bersusah payah belajar berbagai teknik fotografi. Selama foto jelas, tidak blur, tidak terlalu gelap, sudah cukup.

2)

Berbeda dengan mereka yang memandang kamera dari sisi fungsi kedua. Mereka memandang dirinya seniman, penghasil karya seni, jadi mereka akan rela menghabiskan uang besar untuk membeli kamera handal, lensa bagus, dan banyak hal lainnya. Yang terpenting bagi kalangan ini adalah mereka menghasilkan karya foto yang menonjolkan keindahan.

Berkebalikan dengan pemotret pertama, kalangan ini tidak peduli terhadap cerita dan memori yang terkandung dalam sebuah foto. Yang terpenting bagi mereka adalah keindahan dan kecantikan, tidak beda dengan yang diinginkan para pelukis.

Kalangan yang ini akan mati-matian berlatih dan melakukan eksperimen agar hasil karya mereka mendapat pujian dari yang melihat.

Yang kedua inilah yang kemudian merasa bahwa fotografi dan gelar fotografer adalah “milik” mereka. Biasanya karena mereka merasa sudah mencurahkan begitu banyak waktu, tenaga, usaha untuk menghadirkan foto yang indah.

 

Dua Fungsi Kamera Dua Kategori Fotografi

Perkembangan Teknologi Merubah Dunia, Termasuk Fotografi

Yang menjadi masalah adalah zaman berubah. Teknologi berkembang.

Jika di masa lalu, kamera susah sekali didapat, di masa sekarang, kamera adalah sebuah benda yang wajar ada di tangan manusia. Tidak ada smartphone tanpa ada kamera. Semakin hari, kamera smartphone yang ada semakin bagus.

Ditambah dengan kelahiran internet, blog, maka pengetahuan yang dulu hanya dikuasai oleh kalangan kedua, kalangan penghasil karya seni, tidak lagi menjadi eksklusif. Semua orang bisa mengakses dan belajar sendiri.

Semua orang bisa menekuni tanpa harus belajar secara formal.

Gelar fotografer yang dulu merupakan label untuk kalangan eksklusif tertentu tidak lagi menjadi eksklusif. Semua orang sekarang berhak memakainya, jika dia mau. Sesuatu yang menyebabkan gerahnya kalangan kedua, mereka yang menggunakan kamera sebagai penghasil karya seni.

Mereka merasa tidak seharusnya orang-orang yang tidak berjuang, belajar, menggunakan fungsi kamera sebagai penghasil karya seni pantas disebut fotografer.

Inilah asal muasal banyaknya perdebatan tentang definisi fotografi dan istilah fotografer.

Perdebatan itu lahir karena pemisahan antara fungsi kamera dan kategori fotografi mulai melebur. Perkembangan teknologi yang mendorong perubahan ini. Eksklusivitas yang dulu ada batasnya semakin tidak terlihat.

Hal ini sebenarnya bukan hanya terjadi dalam dunia fotografi, tetapi dalam banyak bidang lainnya. Semua itu disebabkan oleh kehadiran internet dan perkembangan teknologi yang membuat kamera dan pengetahuan menjadi semakin murah dan terjangkau semua orang.

Jika dulu hanya segelintir orang yang bisa menjangkaunya, pada masa sekarang, semua orang bisa mendapatkannya dengan murah via dunia maya.

Sesuatu yang tidak terelakkan.

Jadi, seharusnya semua harus bisa menerima tatanan yang lahir karena perkembangan teknologi ini. Tidak perlu ada perdebatan panjang tentang siapa yang layak menyandang label fotografer karena pada dasarnya semua berhak melakukannya.

Toh yang terpenting adalah menghasilkan foto yang indah atau bermakna. Sesuai dengan fungsi kamera yang ingin dipergunakannya.

admin

Seorang blogger seorang pecinta fotografi, seorang ayah, seorang anak, seorang suami seorang tetangga.. Cuma orang biasa yang gemar melihat dunia dari viewfinder kameranya