kamera depan dan kamera belakang smartphone dapat mencerminkan pribadi Anda

Kamera Depan dan Kamera Belakang Smartphone Dapat Mencerminkan Pribadi Anda

20 views

Sadar tidak sadar, seberapa sering Anda menggunakan kamera depan atau kamera belakang smarphone akan menunjukkan kepada masyarakat tentang kepribadian Anda.

Jangan salah.

Meskipun keduanya sama-sama kamera, fungsi kamera depan dan kamera belakang smartphone berbeda jauh. Memang keduanya adalah tetap kamera yang dipergunakan untuk memotret, tetapi pesan yang disampaikan kepada dunia tidak sama.

Fungsi Kamera Depan Smartphone

Fungsi kamera depan memang ditujukan agar si pemegang kamera bisa memotret dirinya sendiri tanpa harus meminta bantuan orang lain. Selfie nama ngetopnya.

Dengan memotret diri sendiri, dan kemudian memajangnya di berbagai media sosial, maka memang tujuan si pemotret agar orang lain tahu siapa dirinya. Ia ingin dunia mengenal dirinya. Singkatnya si pemotret berbicara tentang dirinya sendiri.

Tidak salah kalau kemudian banyak orang berpandangan bahwa para pengguna kamera depan smartphone adalah orang yang “narsis” (dewa dalam mitologi Yunani yang selalu mengagumi dirinya sendiri dan menganggap dirinya paling tampan dengan memandangi bayangannya di permukaan air).

Mereka akan berpandangan kalau sang selfie-er adalah mereka yang gemar dirinya menjadi pusat perhatian dan ingin agar orang selalu berbicara tentang dirinya saja.

Ekses negatifnya di masa sekarang adalah sang selfie-er dianggap sedang “memasarkan” dirinya dan jangan heran kalau si selfier seorang wanita, ada kemungkinan dia akan kedatangan “tawaran”. Pola “memamerkan diri sendiri” ini mirip pola promosi yang dilakukan oleh para penjual, jadi bisa saja masyarakat umum menganggap sang pengguna kamera depan sedang melakukan hal yang sama (walau sebenarnya kebanyakan tidak begitu)

Fungsi Kamera Belakang Smartphone

Pengguna kamera belakang smartphone akan berada di belakang kamera. Sang pemotret tidak akan muncul dalam fotonya.

Ia memotret bukan agar orang mengagumi dirinya dan berbicara tentang siapa si pemotret tetapi ia cenderung ingin menceritakan kepada orang lain tentang ide, gagasan, informasi, atau apa yang dilihatnya.

Karyanyalah yang berbicara.

Idenyalah yang ingin disampaikan.

Pada titik ekstrim, tidak penting orang tidak mengetahui siapa yang memotret, yang terpenting adalah yang melihat foto mengerti, memahami, dan bisa menikmati apa yang disampaikan via fotonya.

Masyarakat pun akan memandang dengan cara yang berbeda terhadap golongan ini dibandingkan golongan pertama. Tidak akan ada label narsis atau orang yang gemar berbicara tentang diri sendiri disematkan kepada golongan yang satu ini.

Label yang kerap disematkan pada kalangan ini adalah fotografer dan bukan selfie-er.

Dua benda yang sama (kamera) tetapi berbeda fungsi. Yang mana yang lebih sering dipergunakan akan bisa menunjukkan kepada banyak orang kepribadian seseorang.

Yang mana yang lebih sering Anda pergunakan? Itu pilihan Anda. Saya memilih yang nomor dua.

(Foto di atas adalah karya foto dari sebuah smartphone yang dihasilkan oleh seorang anak berusia 15 tahun, Arya Fatin Krisnansyah si kribo cilik kesayangan saya dengan ASUS T00N-nya.  Foto dari sebuah danau kecil atau reservoir air di depan sekolahnya.)

Apakah lebih enak dilihat dibandingkan sebuah foto selfie? Bagi saya ya, entah bagi Anda?

Gravatar Image
Seorang blogger seorang pecinta fotografi, seorang ayah, seorang anak, seorang suami seorang tetangga.. Cuma orang biasa yang gemar melihat dunia dari viewfinder kameranya