mengikuti teori atau mengikuti insting

Mana Yang Lebih Baik Mengikuti Teori atau Mengikuti Insting Saat Memotret ?

24 views

Anda pilih yang mana? Mengikuti teori atau mengikuti insting?

Pertanyaan klasik ini masih kerap menimbulkan perdebatan, mana yang yang terbaik?

Ada yang berkata bahwa karena fotogafi adalah seni melukis dengan cahaya, jadi seorang fotografer harus lebih mengandalkan instingnya dalam merekam sebuah momen.

Sebaliknya, kalangan lain menyebutkan bahwa tanpa mengikuti teori dasar, sebuah foto cenderung akan “keluar dari jalur” dan tidak bisa memenuhi kriteria estetika.

Oleh karena itu tidak heran kalau kemudian pro dan kontra dalam hal ini masih banyak ditemukan. Wajar saja tentunya, karena fotografer tetap adalah manusia dan masing-masing tentunya punya preferensi dan pandangan sendiri-sendiri.

Tetapi, kerap terjadi saat kita hendak memotret, pikiran seperti terbentur dengan dorongan hati untuk bertindak keluar jalur? Lalu, mana yang harus didahulukan?

Insting Tidak Begitu Saja Lahir

Saya lebih memilih insting.

Bukan karena saya memandang fotografi sebagai “seni” melukis dengan cahaya, tetapi lebih pada alasan logis saja. Insting tidak lahir begitu saja dalam diri seorang fotografer.

Insting lahir dan terbentuk dalam diri seseorang sebagai akumulasi berbagai proses dalam diri manusia.

Sebagai contoh, pertama kali memotret, saya menemukan tentang teori dasar fotografi, Rule of Thirds (Aturan Sepertiga).

Kemudian, untuk mencobanya saya memakai alat bantu (Grid) di kamera agar memudahkan menempatkan obyek dan Point of Interest (POI) dalam bingkai lensa. Setelah melakukannya berulang-ulang, bahkan tanpa alat bantu sekalipun, saya bisa menempatkan obyek atau POI dalam posisi sesuai teori. Lebih jauh lagi, hal itu dilakukan secara tidak sadar, tetapi tangan dan mata sudah berkoordinasi secara otomatis untuk melakukan itu.

Naluri seseorang akan terbentuk, terasah dari akumulasi berbagai hal, seperti pengetahuan yang berasal dari teori-teori yang diserapnya, pengalaman di lapangan dimana teori-teori tersebut diterjemahkan dalam tindakan, pembiasaan diri dimana praktek-praktek tentang teori dilakukan berulang-ulang dan menjadikannya kebiasaan.

Kesemua faktor itu adalah yang membentuk kemampuan atau skill seorang fotografer.

Oleh karena itu, sebenarnya dengan mengikuti insting, secara otomatis seorang fotografer mengikuti teori juga. Teori yang sudah berubah bentuk menjadi tindakan, praktek, dan kalibrasi di kehidupan nyata.

Keduanya tidak bertentangan dan tidak perlu dipertentangkan.

Itulah mengapa saya lebih memilih mengikuti insting dan itulah juga mengapa saya terus membaca teori tentang fotografi dan kemudian rutin berlatih memotret.

Dengan begitu saya harapkan, pengetahuan meningkat, pembiasaan diri terus dilakukan, dan hasilnya diharapkan insting memotret akan terus bertambah dan terasah.

Jika itu berhasil, maka saat memotret saya tidak akan tergantung pada kinerja otak untuk mengingat teori sebelum menekan shutter . Diharapkan pula, otomatis tangan, kepala, mata akan bereaksi terhadap dorongan insting yang sudah penuh dengan pengetahuan dan terasah oleh latihan.

Bukan begitu, Kawan?