Memotret Perlu Berpikir Kenyataannya begitu

Memotret Perlu Berpikir, Kenyataannya Begitu

76 views

Masa sih hal sederhana seperti itu perlu berpikir? Bukannya cukup angkat kamera arahkan ke obyek dan kemudian tekan shutter? Yah, kenyataannya tidak demikian. memotret perlu berpikir, bahkan sekedar untuk sebuah kesenangan atau merekam momen-momen sederhana tetap saja proses berpikir itu diperlukan.

Tidak kurang dan tidak lebih.

Tidak dipungkiri bahwa dengan kamera digital masa kini semua semakin dipermudah. Bahkan, kalau menurut jargon-jargon yang disebarkan oleh para produsen kamera, tidak perlu keahlian khusus untuk bisa menghasilkan foto yang bagus. Cukup menggunakan berbagai efek yang disediakan pada kamera saja.

Kesannya memang begitu mudahnya memotret itu dan tidak memerlukan usaha untuk berpikir.

Tetapi, coba simak apa yang dikatakan dua orang fotografer terkenal, satu dari Indonesia dan satu dari luar negeri.

Arbain Rambey (Redaktur Foto Harian Kompas) :

 “Uji kreativitasmu, jadikan ide itu sebagai bakatmu, atasi masalah dengan mudah, dan mau berpikir,”

Ansel Adams (Fotografer asal AS) :

“The single most important component of a camera is the twelve inches behind it.” (Satu-satunya komponen kamera yang paling penting berada duabelas inci di belakangnya)

Pak Rambey jelas sekali menekankan bahwa fotografi alias seni memotret itu menghendaki seorang yang mau berpikir.

Ansel Adams memakai satir dengan mengatakan “bagian terpenting kamera berada duabelas inci di belakangnya”. Coba tebak apa yang ada dua belas inci di belakang kamera?

Ya, betul. Otak. Tentunya milik yang memotret.

Mengapa mereka mengatakan demikian?

Sederhana saja, tidak perlulah terlalu rumit dengan membahas berbagai teori , coba perhatikan hal-hal sederhana saja.

Kamera itu komputer mini : Tidak disadari banyak orang bahwa komputer digital masa kini sebenarnya adalah sebuah komputer mini. Di dalamnya terdapat sebuah prosesor pengolah gambar.

Untuk mengoperasikannya, perlulah pengetahuan khusus. Mode auto memang mempermudah tugas seorang fotografer, tetapi apakah hasilnya akan sesuai dengan yang diinginkan? Belum tentu karena mode auto disetting berdasarkan standar yang membuat.

Menempatkan obyek :  Salah satu kunci foto yang menarik adalah bagaimana menempatkan sebuah obyek dalam foto. Kurang tepat dalam menempatkan obyek, bisa membuat foto menjadi tidak enak dilihat.

Mengatur jarak : Terlalu dekat dengan obyek foto, maka bisa jadi kamera tidak akan fokus secara tepat. Hasilnya subyek foto yang seharusnya jelas malah jadi buram sedangkan yang seharusnya buram menjadi jelas.

Memilih lensa : Kamera DSLR memang enak dan pengembangannya banyak, tetapi juga memberikan tugas tambahan, yaitu memilih lensa yang cocok. Membawa lensa 50 mm F/1.8 untuk memotret pemandangan adalah sebuah hal yang konyol. Mau tidak mau bahkan sebelum memotret seorang fotografer dipaksa untuk harus berpikir.

Mempelajari kondisi di lapangan : Darimana datangnya sumber cahaya? Apakah backgroundnya cocok dan menunjang ide cerita? Apakah latar belakang terlalu ramai atau tidak?

Sudut pengambilan gambar : Dari bawah? Atau dari atas? Atau dari samping? Tidak semua sudut pengambilan foto cocok untuk semua obyek. Semua harus disesuaikan dengan ide yang ingin diterjemahkan dalam foto.

Dan masih banyak hal lainnya yang harus dipikirkan, bahkan ketika seorang fotografer memilih untuk memakai mode auto.

Tidak mungkin tidak. Fotografi tidak segampang yang dibayangkan orang dan cukup dilakukan dengan sekedar membeli kamera mahal. Seorang fotografer harus mau berpikir dan terus berpikir. Tidak mungkin tidak.

Kenyataannya ia akan dituntut terus untuk melakukan yang namanya BERPIKIR. Tidak bisa tidak.

Itulah mengapa dua orang fotografer tersebut sangat menekankan bahwa memotret perlu berpikir karena kenyataannya memang begitu.

Gravatar Image
Seorang blogger seorang pecinta fotografi, seorang ayah, seorang anak, seorang suami seorang tetangga.. Cuma orang biasa yang gemar melihat dunia dari viewfinder kameranya