Cara Menentukan Harga Jasa Fotografi – Sisi Bisnis Memang Rumit

Berapakah seharusnya seorang fotografer dibayar? Adakah patokan harga yang pantas untuk ditawarkan untuk jasa fotografi? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini banyak beredar di berbagai komunitas fotografi. Sesuatu yang menunjukkan bahwa menentukan harga jasa fotografi itu belum banyak diketahui, bahkan oleh mereka yang bergelut di dunia ini.

Situasi yang seperti itu memang bisa dimengerti karena masalah penentuan harga jasa fotografi sebenarnya bukanlah bagian dari fotografi. Masalah seperti ini adalah bagian dari dunia bisnis yang jarang menjadi fokus para fotografer.

Tidak mudah, tetapi, tidak sulit juga alias bisa dipelajari. Hanya perlu sedikit kejelian dan pengetahuan tentang teori dan langkah-langkah penetapan harga. Dimanapun dasarnya sama, hanya agak berbeda sedikit dalam hal jasa.

Menentukan Harga Jasa Fotografi - Sisi Bisnis Memang Rumit
Cap Go Meh Bogor 2018

Prinsip Bisnis Berlaku Dalam Menentukan Harga Jasa Fotografi

Bisnis adalah usaha untuk mencari keuntungan dan dilakukan dengan menjual “produk” kepada pembeli. Dalam hal ini, produk yang dijual berupa jasa dari sang fotografer kepada pemakainya.

Jadi, seorang fotografer pun harus berusaha untuk mendapatkan keuntungan materi dalam hal ini. Oleh karenanya, ia tidak boleh RUGI. Ia harus untung. Kalau seorang fotografer mau menerima tarif berapapun meskipun ia merugi secara materi, namanya bukan bisnis tetapi sedekah.

Untuk meraih keuntungan dalam hal ini, maka dalam harga jasa fotografi yang ditawarkan harus mempunyai dua komponen utama harga, yaitu :

  1. Ongkos Produksi
  2. Keuntungan

Dasar penetapannya memang hanya dua itu saja. Masalahnya, jasa bersifat abstrak dan tidak bisa diukur secara kasat mata, jadi perlu sedikit penjabaran, ongkos produksi dari jasa seorang fotografer itu apa saja.

1) Komponen Ongkos Produksi Jasa Fotografi

Abstrak dan tidak kasat mata memang, tetapi sebenarnya tidak seabstrak yang dikira banyak orang.

Silakan buat sedikit coretan untuk mengkalkulasi biaya yang dilakukan untuk melakukan pemotretan.

Ongkos produksi dalam bidang jasa akan terlihat dari hal-hal seperti di bawah ini :

> a) Biaya Transportasi :

Seorang fotografer, sebagai manusia pun akan mengeluarkan biaya untuk pergi ke suatu tempat, baik menggunakan sarana transportasi umum atau kendaraan pribadi tetap saja ada biayanya. Ia harus membayar tiket bis atau kereta dan harus membayar bensin yang dibelinya.

Tidak ada yang gratis walaupun memakai kendaraan pinjaman mertua sekalipun.

Jadi,, berapa ongkos yang dikeluarkan? Masukkan pada urutan pertama komponen harga Anda berapapun besarnya itu.

> b) Biaya makan :

Fotografer tetap butuh makan dan minum karena ia tetap manusia. Jadi, tidak salah sama sekali kalau memasukkan biaya makan dan minum saat melakukan pemotretan. Anggaplah saja diri sendiri sebagai buruh pabrik dan sesuai aturan hukum, maka biaya setidaknya sekali makan harus ditanggung oleh yang menggunakan jasa mereka. (Kalau

tTidak percaya lihat saja UU No 13 tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan)

> c) Biaya Sewa Kantor/Studio :

Jika Anda punya studio foto, maka komponen biaya sewa ruangan harus dimasukkan. Tentunya dibagi dengan hari kerja, dan jangan semuanya dimasukkan.

Mengapa demikian? Karena sudah pasti tahun berikutnya, Anda harus membayar sewa lagi dan hal itu tidak akan tertutup kalau ongkos biaya sewa kantor atau studio tidak didaftarkan.

Bahkan, kalau Anda berkantor di rumah kontrakan atau rumah mertua sekalipun, perhitungkan sebagai biaya sewa ruangan. Wajar kok karena sebuah perusahaan bisnis pun melakukannya.

> d) Ongkos Penyusutan/Depresiasi :

Kamera adalah benda yang sudah pasti akan rusak suatu waktu. Di saat rusak itu, tentunya Anda butuh penggantinya agar tetap bisa mencari nafkah. Iya kan? Bisa juga Anda perlu menggantinya karena tuntutan pasar membutuhkan kamera yang lebih canggih.

Jadi, berikan target/rencana untuk mengganti kamera. Dua tahun rasanya bisa dipergunakan.

Lalu, perhitungkan berarti selama 2 x 12 bulan, Anda harus mempersiapkan uang untuk mengganti kamera. Misalkan kamera dan lensa yang sekarang dipergunakan berharga 30 juta, silakan dibagi dengan 24 bulan. Maka per bulan Anda harus mengumpulkan uang untuk ganti kamera sekitar 1,25 juta rupiah.

Nah, dalam satu bulan berapa kali Anda bisa mendapat order, 6-8? Silakan angka 1,25 juta tadi dibagi lagi dan kemudian dimasukkan sebagai komponen biaya untuk sekali pemotretan

Ini adalah contoh sederhana tentang biaya penyusutan, walau tidak tepat benar, bisa dipakai.

> e) Biaya listrik dan air :

Sepertinya terdengar gila, masa biaya listrik dan air harus dimasukkan ke dalam komponen biaya untuk menetapkan harga jasa fotografi?

Yah. Coba saja bayangkan sendiri, kalau Anda punya studio. Apakah pencahayaan tidak memerlukan listrik? Lalu, apakah Anda tidak perlu ke toilet dan memakai air?

Percayalah, semua biaya ini dimasukkan oleh Indofood dalam harga sebungkus Indomie yang mereka jual. Hanya karena dibagi dalam jumlah besar dan banyak hal itu tidak terasa oleh pembeli.

Jangan ragu untuk memasukkan rupiah yang dibayarkan ke PLN dan PDAM.

Wajar.

> f) Gaji asisten :

Bila dalam bekerja Anda menggunakan tenaga bantuan, maka komponen biaya pun harus memasukkan gaji bulanan yang mereka bayar. Bagi dengan berapa job yang diterima atau hari kerja untuk mendapatkan komponen biayanya.

Kalau bekerja sendiri, abaikan saja

> g) Biaya lain-lain :

Kategori ini adalah biaya tidak tetap yang mungkin terjadi, seperti sewa alat, payung. atau bahkan ongkos kuli angkut yang membawa peralatan. Jangan lupa juga, kalau pemotretan dilakukan di luar ruangan, tiket yang dibayar kalau di tempat wisata, semua harus diperhitungkan.

Nah, untungnya, komponen harga a-f ini tidak perlu ditetapkan setiap kali mendapat order. Anda bisa menghitungnya secara berkala saja, entah 6 bulan sekali atau 1 tahun sekali. Untuk yang g) karena sifatnya insidentil dan tidak tetap, bisa ditambahkan kemudian ketika job datang dan setelah melihat situasi.

Dengan mengetahui komponen biaya, maka setidaknya penentuan harga jasa fotografi tidak lagi berdasarkan ilmu kira-kira atau tebak-tebakan. Ada dasar yang bisa dijadikan perhitungan untuk mengetahui untung ruginya.

Kalau hal ini sudah ditentukan, barulah beranjak pada bagian kedua, yaitu tentang…

Apa Beda Fotografer dan Tukang Foto Ego Manusialah Yang Membuatnya Berbeda

2. Keuntungan

Berapa yang Anda mau? Yang ini tidak bisa dirinci karena akan tergantung masing-masing individu. Dan, dalam bisnis, prinsip ekonomi untuk menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya berlaku.

Fotografi lebih mengarah ke seni dan hampir tidak ada patokan standar sama sekali jadi penentuan keuntungan lebih leluasa. Mau memasukkan biaya cicilan mobil ke dalamnya pun tidak ada masalah.

Jadi, kalau mau mengambil untung 100% atau bahkan 1000% persen, kalau hal itu bisa diterima oleh pengguna jasa, mengapa tidak?

Yang pasti jangan rugi atau tidak ada untung!

Hanya perlu juga diperhitungkan beberapa hal ini, seperti :

  • daya beli pengguna : kemampuan masyarakat di desa dan di kota tentu berbeda, jadi kalaupun inginnya mengambil untung 1000%, tetapi tidak terbeli, untuk apa? Ambil keuntungan sewajarnya saja
  • kepopuleran : yang sudah terkenal untungnya bisa lebih besar, pemula sebaiknya tidak terlalu besar
  • siapa pesaing Anda : kalau banyak, lebih baik ambil keuntungan lebih sedikit, tetapi kalau tidak ada, silakan sebesar-besarnya

Setelah mengetahui ongkos produksi dan keuntungan yang ingin diambil. buatlah catatan tentang “harga minimum”yang harus menjadi target saat negssiasi.

Selesai? Belum!

Tambahkan 10-20% di atas harga minium tadi karena biasanya calon pengguna jasa akan menawar dan meminta penurunan harga atau diskon. Persentase ini bisa dikorbankan untuk membuat si calon gembira dan kemudian menyetujui harga yang ditargetkan.

Nah, selesai! Anda sudah menentukan harga jasa fotografi yang akan ditawarkan kepada klien Anda.

(Baca juga : Apa Itu Digital Image?)

TIPS :

  • Jangan pernah jual rugi, kecuali Anda benar-benar butuh dan tidak ada order sama sekali
  • Jangan selalu menawarkan harga murah hanya demi mendapatkan job karena hal itu akan membiasakan pengguna jasa memandang bahwa jasa fotografi itu murah
  • Kalau daya beli masyarakat tidak bisa menerima harga jasa fotografi yang ditawarkan, cari pasar lain yang bisa menerima. Jangan paksakan menjual dengan harga di bawah harga minimum karena pada akhirnya akan membuat Anda bangkrut
  • Kalau perlu, kurangi lagi dari harga minimum yang sudah ditetapkan dan anggap sebagai biaya promosi untuk mempopulerkan nama, tetapi jangan sampai rugi dan tidak dapat untung
  • Perhatikan pesaing karena kalau penawaran terlalu tinggi, maka job akan hilang kepada mereka, kecuali Anda sudah punya nama
  • Jangan lupa mendengarkan gosip atau rumor tentang bagaimana pesaing Anda dan hasil karyanya, apakah pemakai jasa mereka puas atau tidak. Hal ini bisa menjadi perbedaan dalam menentukan harga

Tolong Bantu Dishare Siapa Tahu Ada Yang Membutuhkan

admin

Seorang blogger seorang pecinta fotografi, seorang ayah, seorang anak, seorang suami seorang tetangga.. Cuma orang biasa yang gemar melihat dunia dari viewfinder kameranya