[Pelajaran Penting] Fotografer Tidak Boleh Malas Bergerak dan Takut Kotor

59 views

Membaca judul artikel yang hendak dibuat ini membuat saya tersenyum sendiri. Jadi teringat di masa belum serius menekuni dunia fotografi.

Biasanya, kalau hendak memotret dan merasa sudut pemotretan kurang pas, saya dulu akan mengatakan “geser ke kiri”, “geser ke kanan”, da sejenisnya. Alasan utamanya seringkali hanya karena saya malas bergerak dan berpindah tempat saja karena merasa sudutnya sudah pas dan obyeknya yang harus menyesuaikan.

Belum lagi kalau lokasi pemotretannya juga becek, seringkali saya menghindar dari tempat tersebut dan memilih tempat yang kering. Jangan harap saya mau menginjak tanah berlumpur seperti itu, takut kotor.

Setelah lebih jauh lagi mempelajari dunia yang satu ini, ternyata hal itu adalah sebuah kesalahan yang cukup besar. Maksudnya, rasa malas untuk berpindah tempat.

Hal tersebut menjadi penghambat bagi seorang fotografer untuk bisa menemukan sudut pengambilan gambar yang terbaik. Pilihannya menjadi terbatas dan dibatasi oleh ketakutan akan capek atau kotor saja.

Padahal, fotografi adalah tentang “hasil”. Orang yang melihat tidak akan peduli fotografernya basah kuyup atau kotor, atau berkeringat. Yang terpenting bagi mereka adalah foto yang enak dipandang dan dilihat. Tidak penting dihasilkan dengan cara apapun.

Apakah yang memotret harus berendam dalam sungai atau tiarap di tanah berlumpur, mereka tidak peduli selama hasilnya membuat mereka “senang”.

Rupanya rasa “senang” yang terwujud dalam ucapan terima kasih atau ungkapan gembira terhadap hasil foto mereka adalah bayaran dari baju yang belepotan tanah, atau celana yang basah, atau sandal yang terbawa air.

Tentunya, bagi mereka yang melakukannya secara komersil, senyum dan rasa gembira itu menunjukkan tingkat kepuasan pelanggan. Sementara bagi yang melakukannya karena hobi, ungkapan tersebut mewakili “pengakuan” terhadap hasil karyanya.

Yang manapun hal itu membawa kepuasan tersendiri bagi si pemotret.

Pada saat itu terjadi, terlupakanlah rasa capek, atau fakta harus membeli sandal baru untuk mengganti yang hanyut, atau terpaksa diomeli istri karena sulitnya mencuci baju yang terkena lumpur. Lupa semuanya.

Yang ada adalah rasa puas di dalam hati yang memotret.

Fotografer tidak boleh takut kotor

Mungkin karena ketagihan rasa “puas” itulah yang membuat saya menyimpulkan bahwa seorang fotografer tidak boleh malas bergerak dan takut kotor.

Ia harus berani mengambil resiko untuk menjadi tidak nyaman dan capek. Itu adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh sang fotografer untuk sebuah hasil yang memuaskan dirinya dan orang yang dipotret.

Harga Rinso tentu lebih murah dibandingkan pelanggan yang marah-marah karena foto dirinya tidak enak dilihat. Membeli sendal baru tentunya lebih mahal dibandingkan kehilangan kesempatan menghasilkan foto yang bagus dan membuat kita misuh-misuh lama.

Bukan begitu?

Gravatar Image
Seorang blogger seorang pecinta fotografi, seorang ayah, seorang anak, seorang suami seorang tetangga.. Cuma orang biasa yang gemar melihat dunia dari viewfinder kameranya