Tantangan Utama Memotret di Keramaian atau Tempat Yang Penuh Orang

Tantangan Berat Memotret di Tempat Yang Penuh Orang A

Sebuah keramaian atau kerumunan orang adalah harta karun bagi penggemar fotografi jalanan. Bisa dipastikan tempat tersebut akan penuh orang dan pastinya akan menyediakan obyek dan warna yang banyak. Di sebuah keramaian pasti akan banyak sekali momen yang bisa menjadi sasaran kamera.

Itulah mengapa saya setiap tahun akan selalu datang ke CGM Bogor Street Festival alias Cap Go Meh Bogor atau Car Free Day untuk hunting foto. Alasan utamanya untuk mengisi blog, tetapi juga sekaligus berlatih fotografi. Pengalaman selama ini menunjukkan ajang itu memang menyediakan banyak sekali obyek dan momen menarik.

Masalahnya, dari sana pula saya belajar banyak. Ada satu tantangan berat untuk bisa menghasilkan foto yang menarik. Namanya, ya itu tadi ” orang yang banyak dan tidak teratur”.

Jelas tidak teratur karena jangankan kita sebagai fotografer, pak polisi saja ruwet kalau harus mengarahkan ribuan orang.

Ini menimbulkan masalah tersendiri karena sulit sekali mendapatkan latar belakang “bersih” dan menunjang penerapan prinsip KISS (Keep It Simple Stupid). Luar biasa susah karena kita tidak bisa memprediksi pergerakan dari orang yang berlalu lalang.

Repot..

Tetapi, justru disitu seninya. Tidak menarik kalau tidak ada kesulitan. Tidak ada tantangan.

Tantangan Berat Memotret di Keramaian B

Setelah berulangkali melakukannya, barulah saya bisa menemukan beberapa hal yang bisa membantu untuk menghasilkan foto yang enak dilihat dalam situasi seperti itu. Itupun setelah tak terhitung berapa kali datang ke Car Free Day Bogor, ajang yang dilakukan setiap hari Minggu pagi.

Tidak terhitung juga banyak foto yang gagal dan terbuang, tetapi pada akhirnya rasio antara yang gagal dan bagus membaik dari waktu ke waktu.

Beberapa cara yang saya lakukan untuk bisa mendapatkan hasil seperti ini adalah :

A) Auto Mode Adalah Yang Terbaik

Bukan berarti mode yang lain jelek dan tidak berguna, tetapi dalam keramaian, obyek biasanya sangat mobile . Pergerakannya cepat.  Momennya berubah dalam sepersekian detik.

Hampir tidak ada waktu yang tersisa bagi fotografer untuk memilih setting yang cocok. Di saat kita mengatur kamera, bisa jadi situasinya bisa berubah.

Jadi, auto mode memang yang paling tepat. Meskipun demikian, jika obyeknya lebih lamban atau tidak bergerak, barulah kita bisa menggunakan beberapa mode lain seperti aperture priority.

B) Lensa Zoom Lebih Bagus

Inginnya sih bisa memanfaatkan kelebihan lensa Fix/Prime 50 MM F/1.8 untuk menghasilkan bokeh. Sayangnya, pengalaman menunjukkan bahwa respon lensa ini lebih lamban sehingga kamera sulit terfokus dengan cepat.

Lensa zoom juga memiliki kelebihan lain dimana sang pemotret tidak perlu berlari memperpendek jarak (seperti yang dilakukan kalau memakai lensa fix)

Pada panjang focal maksimum lensa zoom juga bisa menghasilkan bokeh yang cukup untuk membuat “bagian yang tidak perlu” menjadi blur.

Yang saya pergunakan adalah lensa 55-250 dari Canon saja. Satu-satunya dalam koleksi lensa yang bisa dipakai saat ini.

Tips memotret di keramaian

C) Satu Lensa Saja Lebih Baik

Tidak perlu membawa lensa terlalu banyak. Satu atau 2 saja sudah cukup. Dengan begitu beban yang dibawa akan lebih ringan dan tidak perlu sibuk mengurusi peralatan yang kurang perlu.

Lagi pula, dalam kerumunan begitu banyak orang akan sulit mengganti lensa. Selain bisa kehilangan momen, juga menimbulkan bahaya yang tidak perlu, seperti tersenggol dan bisa menyebabkan lensa atau kamera terjatuh.

D) Tentukan Obyek

Akan ada begitu banyak pilihan untuk dijadikan sasaran kamera dan hal ini bisa menyulitkan. Terlalu banyak. Satu belum dipotret sudah hadir momen lain.

Jangan terpengaruh. Pilih dan tentukan obyeknya, lalu fokus untuk menghasilkan fotonya. Lepaskan dulu yang lain. Kalau diikuti, maka bisa jadi kita tidak akan bisa menghasilkan foto karena selalu terpengaruh oleh momen menarik lainnya.

Pilih yang paling menarik dan lakukan dalam waktu singkat supaya kita bisa beralih pada obyek berikutnya.

E) Bersikap Fleksibel Tetapi Tegas

Bukan berarti marah-marah, tetapi berikan batas waktu pada setiap obyek yang hendak dijadikan foto. Kalau obyek bergerak, berikan beberapa saat kepada diri sendiri untuk mencoba memotret obyek tersebut. Kalau perlu, ikuti obyek sehingga ada pada posisi yang menguntungkan untuk memotret. Kalau tidak, dan tetap gagal, “lepaskan” dan beralih pada obyek yang lain.

Untuk obyek yang diam, luangkan lebih banyak waktu dan menunggu momen yang pas untuk menghasilkan foto yang diinginkan.

Gaya anak anak menunggu parade dimulai A

F) Perhatikan WARNA

Dalam kerumunan orang yang begitu banyak, maka sulit sekali membuat obyeknya menonjol dibandingkan yang lain. Mendapatkan obyek dengan warna yang cerah dan berani akan sangat menguntungkan dalam foto.

Perhatikan obyek dengan warna yang aktif dan cerah karena sangat potensial menjadi foto yang bagus.

Kombinasikan dengan warna latar belakang yang kalem dan tenang.

G) Perhatikan Mimik Wajah

Perhatikan mimik wajah. Kadang perhatian terfokus pada hal-hal yang umum,seperti peserta pawai arau parade, atau penyanyi, artisnya. Hal yang sama yang dilihat ribuan orang lainnya.

Tetapi, terkadang tingkap polah dan mimik wajah penontonnya sendiri kerap bisa dijadikan bahan foto yang menarik. Yang paling sering menunjukkan hal itu adalah anak-anak. Jadi, jangan abaikan kehadiran mereka. Banyak hal yang mengejutkan bisa didapat kalau rajin memperhatikan gerak-gerik anak-anak.

Perhatikan Mimik Wajah

H) Fokus Pada Cerita Bukan Teknis

Yang melihat foto tidak semua ingin melihat keindahan dan kecantikan. Ada juga yang sangat senang melihat foto yang lucu dan menghibur, atau mengundang rasa mereka.

Jadi, tidak perlu terlalu menekankan pada upaya menghasilkan foto yang menarik sesuai teori teknik pemotretan. Justru, laungkan waktu lebih banyak untuk memikirkan foto yang bercerita dibandingkan sekedar mengandalkan bokeh. Walau, kalau keduanya bisa dilakukan bersamaan akan lebih baik, tetapi sayangnya sulit sekali.

I)  Berjalan Perlahan dan Relaks

O ya. Jangan berjalan terlalu cepat. Banyak momen akan terlewat dan kita akan sulit menemukan obyek. Bagaimana bisa melihat kalau kita bergerak terlalu cepat.

Perlahan saja.

Dan, relaks.

Jangan terlalu serius berusaha menemukan obyek “spesial”. Bersikap santai saja, anggaplah sedang ikut menjadi bagian dari keramaian tersebut, sambil tetap memasang mata. Terlalu berat menganggap diri “berburu” justu menimbulkan tekanan tersendiri dan malah mempersulit untuk menemukan obyek itu sendiri.

Enjoy dan nikmati.

J) Agak BOROS Sedikit

Maksudnya bukan sering-sering membuka dompet dan jajan, tetapi janganlah terlalu berpikir tentang “shutter count”. Banyak fotografer yang khawatir kamera mereka cepat rusak karena terus menerus memotret. Apalagi banyak yang menyebutkan bahwa kalau angka shutter count sudah melebihi batas yang ditetapkan produsen, maka harus segera diganti.

Dalam hal ini, jangan pikirkan hal tersebut. Anda akan membuat kesalahan lumayan banyak dalam situasi demikian, tetapi ada banyak hal yang bisa dipelajari. Jadi, tidak akan sia-sia.

Kalau berhenti karena khawatir soal shutter count, malah bisa jadi tidak akan ada foto yang bisa dibawa pulang. Pilih yang mana? Saya pilih mengorbankan lebih banyak shutter count yang hilang daripada tidak membawa hasil.

Pilih Obyek Dan Persiapkan Kamera

Ini hanyalah sharing. Bukan hukum pasti. Semua orang akan punya cara masing-masing untuk memotret di sebuah festival atau dimanapun banyak orang berkumpul. Silakan saja tambahkan.

Meskipun demikian, cara yang disebutkan di atas memang membantu saya menghasilkan foto-foto yang lumayan menarik seperti dalam artikel ini.

Iya nggak sih?

Tolong Bantu Dishare Siapa Tahu Ada Yang Membutuhkan

admin

Seorang blogger seorang pecinta fotografi, seorang ayah, seorang anak, seorang suami seorang tetangga.. Cuma orang biasa yang gemar melihat dunia dari viewfinder kameranya