Manfaat Tantangan One Camera One Lens – Satu Kamera Satu Lensa

One camera one lens challenge kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “Tantangan satu kamera satu lensa”.  Tantangan seperti ini biasa disarankan oleh para fotografer senior kepada mereka, para pemula. Bukan hanya di dalam negeri saja, tetapi di luar negeri pun tantangan ini ada. Diberikan pada saat seminar-seminar atau workshop, tetapi tidak sedikit yang bahkan khusus menuliskannya dalam sebuah artikel khusus.

Tantangan one camera one lens ini rupanya dianggap penting bagi banyak orang.

Sebuah hal yang mudah dilakukan?

Jawabnya IYA, kalau memang kita hanya memiliki satu kamera dan satu lensa saja. Mau tidak mau karena memang tidak ada pilihan lain, maka kamera dan lensa yang bisa dipakai, ya itu itu saja. Apalagi kalau hanya punya kamera smartphone. Benar-benar tidak punya pilihan lain.

Tetapi, ternyata tantangan satu kamera satu lensa ini sangat sulit dilakukan. Sulit sekali. Biasanya hal itu terjadi bagi mereka yang memiliki lebih dari satu kamera dan/atau lensa. Ya, kalaupun hanya ada satu kamera dan dua atau tiga lensa saja, ternyata tetap sulit melakukan hal ini.

Mau tahu kenapa?

Tantangan satu lensa satu kamera sulit dilakukan

Jawabnya karena pada dasarnya manusia itu tidak pernah puas. Serakah. Manusia selalu menginginkan semua keinginannya terpenuhi.

Wajar. Itulah salah satu sisi kelemahan manusia.

Dan, fotografer itu manusia juga.

Ketika ia diberikan pilihan, maka naluri manusianya akan berbicara. Ia akan berusaha untuk mendapatkan kesemua pilihan itu.

Bayangkan saja ketika di hadapan ada pilihan lensa kit 18-55 mm, lensa fix 50 mm si raja bokeh, dan lensa zoom 55-200 mm. Kesemuanya punya fungsi berbeda-beda.

Lensa kit berguna sebagai lensa segala medan. Cukup luas untuk foto pemandangan dan tidak fokusnya cukup cepat. Lensa fix 50 mm tentu saja perlu untuk membuat foto potret dan bokeh yang bagus dengan aperture f/1.8-nya. Lensa zoom 55-200 mm, pasti perlu untuk pemotretan secara candid.

Kesemuanya bisa saling melengkapi dan memenuhi kebutuhan pemotretan.

Tetapi, kehadiran ketiganya sekaligus bukan tanpa efek. Godaan untuk terus menerus mengganti lensa saat memotret sangat sering terjadi. Ketika ada gadis cantik lewat, inginnya segera ganti lensa dengan si 50 mm. Ketika ada obyek yang agak jauh, inginnya ganti lagi ke super zoom. Ada pemandangan, ingin pakai yang rada lebar.

Godaan itu terus datang silih berganti ketika berada di jalanan. Dan, saking seringnya, sampai terkadang banyak sekali momen hilang karena perhatian tidak terfokus pada pemotretan, tetapi lebih kepada menentukan lensa apa yang harus dipakai.

Tidak berbeda dengan kaum wanita yang saking lamanya memilih baju, pada akhirnya terlambat datang ke kondangan. Perhatian lebih terfokus pada penampilan diri sendiri daripada tujuan sebenarnya.

Itulah salah satu godaan memiliki lebih dari satu lensa. Apalagi kalau kameranya juga lebih dari satu dan lensa 10 jenis. Godaannya bertambah besar lagi.

Tantangan One Camera One Lens

Tujuan dari “one camera one lens” ditujukan untuk menghilangkan semua godaan itu. Betul kan? Bagaimana mau ada godaan kalau yang ada di tangan hanya ada kamera dan lensa yang itu itu saja.

Mau tidak mau, sang fotografer harus berkarya dengan keterbatasan yang mengikatnya. Ia akan dipaksa untuk kreatif dan berinovasi menghadapi situasi yang ditemukan.

Misalkan, di saat ingin mengambil foto bokeh seorang gadis cantik, tetapi yang ada hanya lensa zoom 55-200 mm, berarti ia harus mengatur jarak agar figur sang gadis bisa terekam , tetapi lensa pada focal length terpanjang. Atau kalau obyek agak terlalu lebar sedang yang ada hanya si prime 50 mm, maka ia harus mau bergerak mundur agar apa yang diinginkannya bisa masuk dalam bidang lensa.

Fotografer dipaksa berpikir dan membuang rasa malasnya.

Bukan hanya itu saja, tantangan satu kamera satu lensa juga memberikan banyak keuntungan lainnya, seperti

  1. sang fotografer bisa memahami kelebihan dan kelemahan lensanya
  2. sang fotografer bisa mengerti setting apa yang terbaik ketika memakai lensa itu dan dalam kondisi tertentu
  3. sang fotografer bisa terfokus dan memikirkan lebih banyak tentang komposisi foto dibandingkan berpikir lensa apa yang harus dipakai
  4. sang fotografer bisa lebih menikmati pemotretannya sendiri dibandingkan repot mengganti lensa
  5. menjaga 3 lensa lebih repot dibandingkan 1 lensa

Tantangan ini mendorong seorang fotografer untuk memusatkan diri pada pemotretannya dibandingkan pada alatnya. Hal-hal lain yang menjadi pengalih perhatian dikurangi sesedikit mungkin.

Lagipula, tentunya membawa hanya satu lensa lebih ringan dan sang fotografer bisa menghemat tenaga. Dengan begitu, stamina tidak cepat terkuras dan tentunya baik bagi konsentrasi.

Itulah mengapa para senior di bidang fotografi selalu menyarankan tantangan ini untuk dilakukan.

Tantangan One Camera One Lnes - Satu Kamera Satu Lensa 4

Tidak mudah. Sama sekali tidak mudah.

Tidak bedanya dengan berpuasa. Sulit sekali menahan diri untuk tidak serakah. Godaan itu selalu muncul dan kerap ada rasa penyesalan saat memotret. Alih-alih terfokus pada memotret, yang ada adalah pikiran yang melayang dan mempertanyakan “Kenapa, saya tidak bawa si fix 50 mm yah?”, “Mengapa si 55-200 mm harus ditinggal di rumah yah?”

Sama sekali tidak mudah.

Tetapi, semua godaan itu harus dihadapi. Tidak beda dengan berpuasa yang baik buat kesehatan, tantangan satu kamera satu lensa inipun akan memberi dampak baik bagi fotografer, baik pemula atau lanjut.

Itulah mengapa saya masih terus mencoba menekuni tantangan yang nampaknya sederhana ini. Dan, belum bisa berhasil 100% karena saya masih terbiasa berkata “Ah, namanya juga manusia. Wajar punya keinginan”.

Susah membuang kebiasaan seperti itu.