Penari Bali

Penari Bali – Cropping, Contrast, dan Levels

Jujur saja, foto (atau tepatnya image) penari Bali di atas bukanlah seratus persen yang terlihat lewat viewfinder Fuji Finepix HS 35EXR yang dibawa saat traveling ke Pulau Dewata 2 tahun yang lalu.

Foto ini sudah mengalami pengeditan dengan mempergunakan GIMP, terutama dengan Cropping, Contrast, dan Levels.

Foto aslinya ada di bawah ini.

Penari bali - file lama yang diedit

Ketajaman lensa yang sangat minim, sensor cropped yang lebih kecil dari DSLR, dan jarak pemotretan yang agak jauh menghasilkan sebuah foto yang terlihat terlalu terang dan tidak tajam. Bahkan, salah satu penari terlihat sekali kabur dan hanya yang di sebelah kanan ketajamannya lumayan.

Maklumlah namanya kamera prosumer dan lensa apa adanya tentunya sulit uttuk mendapatkan ketajaman ala kamera full-frame.

Hanya saja dengan bantuan GIMP, saya bisa menghasilkan sebuah foto yang lumayan enak dilihat. Tetapi hal itu dilakukan dengan

1) Cropping untuk membuang bagian yang tidak perlu : Penari di sebelah kiri terlalu kabur dan akan sulit diperbaiki, jadi bagian ini saya buang.

2) Kemudian bagian penari yang kanan, saya tingkatkan contrast-nya agar bisa terlihat “menonjol” pada foto. Kebetulan pakaian yang dipergunakannya memiliki warna menyala dan hal itu sangat membantu membuat foto yang menarik

3) Overexposed atau kurang tajam diakali dengan mennggunakan tool “Levels” agar terlihat lebih gelap dan membuat warna-warna cerah sang penari terlihat menonjol

Memang tetap ada keterbatasan dalam ketajaman karena bagaimanapun pengaruh lensa sangat mempengaruhi.

Meskipun demikian, hanya dengan menggunakan cropping, perbaikan contrast, dan tool levels saja sebuah foto yang tadinya tidak enak dilihat bisa menjadi, setidaknya, “lumayan”.

Pernah mencoba membuat yang seperti ini?

Tidak ganteng Tidak cantik tetapi enak dilihat

Tidak Cantik Tidak Ganteng Tetapi Bagus Kalau Difoto

Tidak semua yang cantik bagus menjadi model foto. Tidak semua orang ganteng akan enak dipandang fotonya. Tetapi, ada juga orang yang tidak ganteng tidak cantik, cuma ketika difoto, hasilnya menjadikan foto menarik.

Pak Tua sesama fotografer yang tidak diketahui namanya dan hanya sekali-kalinya bertemu pada Cap Go Meh Bogor 2016 yang lalu termasuk yang terakhir. Wajahnya dengan brewok berwarna putih tidak membuatnya menjadi tampan, tetapi entah kenapa foto ini termasuk salah satu yang saya sukai.

foto istana bogor 2

(Foto) Istana Bogor Tidak Pernah Klise

Klise kata banyak orang. Memotret sesuatu yang sudah umum akan selalu dianggap klise dan tidak kreatif dalam menemukan ide dan obyek.

Tetapi, terkadang kecantikan memang akan selalu mengundang dan membuat kangen. Meski sudah beberapa puluh kali atau ratus kali, kalau memang sudah cinta dan sayang, tetap saja akan datang dan datang lagi.

Setidaknya itulah yang saya rasakan setiap melihat Istana Bogor. Walau hanya bisa melihat secara jelas bagian belakangnya, tetap saja tidak menghentikan jari untuk menekan shutter.

foto istana bogor 3
Canon 700D F/9 1/100 detik ISO 100

Klise atau tidak menjadi tidak penting lagi. Selama bisa menikmatinya, mengapa tidak?

Cukur Rambut

(Foto) Cukur Rambut

Tantangan terbesar dalam menggeluti street photography atau fotografi jalanan adalah mencoba menjadikan sesuatu yang “biasa” menjadi “tidak biasa” atau “luar biasa”.  Mayoritas dari usaha tersebut adalah kegagalan, karena obyek yang biasa akan tetap menjadi biasa, bahkan setelah mencoba dari berbagai sudut pandang, tetap saja biasa.

Cobalah sendiri memotret seseorang yang sedang cukur rambut.

Perlu usaha banyak untuk bisa menghadirkan emosi di dalamnya karena tetap saja cukur rambut adalah sesuatu yang umum dan kebanyakan orang melakukannya rutin setidaknya sebulan sekali. Sulit sekali menghadirkan emosi meski sudah berusaha memotret sedekat mungkin dengan obyek (cara yang biasa dilakukan untuk memasukkan unsur personal dalam foto).

Seringnya tetap gagal.

Terlalu biasa.

Atau mungkin kitanya yang berusaha terlalu keras untuk tampil “luar biasa”? Bukankah fotografi jalanan memang merekam sesuatu yang natural dan biasa saja? Mengapa harus dibuat luar biasa?

cukur rambut 2
Canon EOS 700D ISO 3200 F/4 1/50 detik – Editting Photoscape

Bagaimana kalau ditambahkan informasi bahwa tempat foto-foto ini diambil di Hunky Dory Barbershop, tukang cukur rambut langganan pak Presiden Jokowi kalau dia di Bogor?

Apakah membuat fotonya menjadi sedikit lebih menarik?