Filosofi Inspiratif Eric Kim : Buy Books, Not Gear

“Buy Books, Not Gear” ~ Eric Kim

Empat kata saja, tetapi dalam maknanya. Pertama kali kutipan ini saya baca beberapa tahun yang lalu di sebuah website milik seorang fotografer asal Amerika Serikat, Eric Kim. Pria berdarah Korea ini terkenal sebagai salah seorang yang menekuni genre street photography dan kerap memberikan seminar tentang bagaimana menjadi street photographer jalanan.

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, maka artinya secara harfiah adalah “Beli Buku, Bukan Alat”. Kalau dikaitkan dalam dunia fotografi, maka maknanya adalah “Beli Buku, Bukan Kamera/Lensa”.

Inti dari filosofi inspiratif ini sederhana saja. Dibandingkan terus “memperbarui” kamera yang dipergunakan, lebih baik membeli “buku” (pengetahuan).

Pandangan ini terkait dengan keyakinannya bahwa fotografi bukanlah sekedar tentang kamera, alatnya. Justru yang paling penting adalah tentang kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki orang yang mengoperasikan kamera itu, sang fotografer.

Banyak sekali orang yang berpikiran bahwa jika ia membeli sebuah kamera yang lebih canggih, dan tentunya lebih mahal, kemudian diperlengkapi dengan lensa yang tidak kalah mahalnya, maka hasil fotonya akan otomatis menjadi bagus.

Padahal…

Sebenarnya tidak demikian.

Tips memotret di keramaian

Fotografi, sama halnya dengan banyak hal lain di dunia, adalah bagian dari kehidupan manusia. Jadi, intinya adalah tetap manusianya.

Seorang dari desa yang belum pernah mengoperasikan komputer sama sekali, kemudian diberi sebuah laptop Apple dengan prosesor 3.0 Ghz tetap tidak akan menghasilkan apa-apa. Ia tidak tahu cara mengoperasikannya. Tetapi, jika kemudian ia belajar mengerti dan tentang cara mengoperasikannya, maka barulah akan ada hasil yang dikeluarkan dari laptop mahal itu.

Semakin ia mahir dalam bidang komputer, maka jenis dan harga laptop tidak lagi akan menentukan hasil. Pada saatnya, ia bahkan akan bisa menghasilkan produk akhir yang sama, bahkan dengan komputer yang berharga lebih murah dengan spesifikasi yang lebih rendah.

Begitu juga dalam dunia fotografi. Percuma saja memiliki kamera Nikon Full Frame terbaru berharga 30 jutaan, jika si pembeli tidak mengerti apa itu Rule of Thirds, atau kenapa garis horizon pada foto sebaiknya tidak miring, atau apa itu bokeh, maka kamera itu akan sia-sia saja. Tidak akan ada foto bagus yang keluar darinya.

Tetapi, jika orang itu kemudian belajar memahami berbagai teknik pemotretan, pencahayaan, dan terus berlatih, pada suatu waktu, bahkan dengan kamera DSLR kelas entry level sekalipun, hasil fotonya akan tetap enak dilihat.

Itulah arti dari filosofi inspiratif dari Eric Kim tadi. Seorang fotografer, tidak seharusnya terfokus pada bagaimana ia bisa mengganti kamera yang ada dengan yang lebih canggih. Bukan hal itu yang akan membuat levelnya sebagai fotografer meningkat. Ia seharusnya berfokus pada pengembangan diri, skill, kemampuannya.

Seorang fotografer harus terus menambah ilmu dalam bidang yang ditekuninya, fotografi, dan terus mengasah apa yang sudah dimilikinya. Ia harus terus berkembang dan semakin pandai setiap harinya.

Bukan berarti bahwa ia tidak boleh membeli peralatan baru, tetapi inti dari fotografi adalah tetap manusianya. Hasilnya baik atau buruk, jangan pernah salah kan alatnya, tetapi salahkan diri sendiri karena kesemuanya tergantung pada yang berada di belakang kamera, sang fotografer.

Bagaimanapun, dunia fotografi adalah bagian dari dunia manusia. Jadi, apapun yang di dalamnya akan terkait dengan manusianya.