Tujuan Fotografi-mu Apa Sih?
Jujurly, kalau pertanyaan, “Tujuan Fotografi-mu Apa Sih?”, yang kalau diterjemahkan, “Kamu menekuni fotografi untuk apa?”, diajukan, maka jawaban saya tidak tunggal.
Sejarah hidup menunjukkan kesukaan terhadap kamera, saya temukan pertama kali, jauh ke masa kecil. Saat berusia sekitar, 14-15 tahun, orangtua membeli sebuah kamera saku – tentu saja analog – pada tahun sekitar 1985.
Senang rasanya bisa memotret di kala itu, walaupun akhirnya tidak terlalu lama dilakukan karena beli film dan cetak foto mahal. Namun, itulah pengalaman pertama dengan dunia fotografi. Sebentar, tetapi berkesan sekali.
Tujuan saat itu bisa dikata tidak ada. Namanya juga masih bocah, saat itu fotografi saya, sekedar iseng dan bersifat dokumentasi saja.
Perkenalan kedua adalah ketika ponsel atau telpon seluler mulai beranjak menjadi smartphone atau ponsel cerdas di awal tahun 2000-an. Saat itu meski kameranya masih sederhana, saya mulai memotret lagi.
Sifat kegiatannya sekedar dokumentasi dan tidak ada arah yang jelas. Sebuah kegiatan iseng memakai kamera, meski karena saya bergelut di bidang tanaman hias saat itu, saya menggunakannya untuk merekam berbagai kegiatan di komunitas saja.
Barulah di atas tahun 2010, tepatnya 2014, fotografi saya mulai bergeser. Saat itu, saya menekuni fotografi memiliki tujuan untuk mengisi blog, yaitu Lovely Bogor – yang sampai saat ini masih beroperasi. Kamera yang dipergunakan saat itu, bukan DSLR, tetapi hanya Sony Experia saja.
Jenis genre yang ditekuni masih lebih pada dokumentasi perjalanan di dalam kota sendiri, Bogor. Genre yang ditekuni beragam, salah satunya dan merupakan awal street photography, karena blog LB, inisialnya, bertujuan untuk memperlihatkan kehidupan di Bogor. Jadi, saya sering berkeliling Bogor sekedar untuk mendapatkan foto dan cerita.
Saat itu seiring tujuan blog yang bersifat “apa adanya”, karakter memotret saya juga begitu, apa adanya. Tidak ada editing, tidak ada sentuhan emosi, tetapi lebih menyerupai reportase pandangan mata saja.
Barulah, terjadi perubahan saat bertemu dengan berbagai orang di dunia yang sama. Sentuhan keinginan untuk membuat “foto cantik” pun hadir.

Pergeseran ini dibarengi kebutuhan akan kamera yang lebih kuat. Jadi, selain HP (handphone), perlengkapan ditambah dengan Fuji Finepix HS35R, sebuah kamera prosumer saja.
Dua tahun kemudian, karena kamera tersebut rusak, diganti dengan Canon 700D, kamera entry level.
Tujuannya adalah selain menghasilkan foto yang lebih baik untuk blog, juga terkadang dipakai belajar menghadirkan “kecantikan” pada foto.
UUD, ujung-ujungnya duit, dan itupun terjadi dalam perjalanan saya di dunia fotografi.
Setelah merasa “cukup mahir”, job sebagai fotografer pun diterima. Diawali dengan yang kecil-kecilan sampai akhirnya mencapai angka lumayan, jutaan. Kemudian, saya pun mulai punya tim, yang sekarang dikenal sebagai LB Digital (Lovely Bogor Digital).
Meskipun, tidak 100% terjun sebagai fotografer profesional dan tetap punya pekerjaan tetap, saya merasakan dunia fotografer pro seperti ini. Duit pun masuk. Berbagai jenis pekerjaan pernah diterima, seperti dokumentasi event, fotografi produk, wedding, wisuda, dan sebagainya.
Kamera juga bergeser jenis. Sony A6400 (APSC) dan A7III (Full Frame) sudah pernah menjadi bagian dari perjalanan sebagai fotografer. Lensanya yang pernah dipakai juga beragam, yang kebanyakan menyewa dibandingkan beli.
Tujuan saat itu adalah uang dan bisnis.
Namun, setelah belakangan tim LB Digital semakin dewasa, tujuan fotografi saya berubah lagi. Capek dengan wara wiri memotret demi uang, dan kebetulan karena pekerjaan tetap masih ada, saya memutuskan untuk lepas, bahkan termasuk kegiatan ngeblog.
Males motret. Situasinya seperti kembali ke awal, saya tetap memotret, tetapi sekedar iseng saja. Saat bermain bersama keluarga atau kawan adalah saat dimana kamera tetap saya arahkan. Selebihnya, rasa malas memegang kamera dibiarkan meraja.
Fotografi seperti bukan bagian hidup yang penting untuk dilakukan.
Namun, setelah kembali dari hiatus alias vakum selama 3 tahun, saya memutuskan untuk kembali memotret. Tentunya, dengan tujuan yang berubah.
Toh, secara materi, saat ini kebutuhan hidup terpenuhi dan saya tidak perlu memaksakan diri memasuki dunia bisnis fotografi yang semakin kompetitif itu.
Saya memutuskan untuk memotret sekedar untuk bersenang-senang saja. Kegembiraan, kesenangan, dan rasa excited di kala merekam momen adalah tujuan barunya.
Kameranya pun berganti. Sudah sangat jarang kamera DSLR atau Mirrorless menemani. yang lebih sering adalah Samsung Galaxy S23 FE , alias si ponsel cerdas yang dibeli saat ponsel lama terasa kameranya ‘menyebalkan’.
Bagi saya, kamera itu sudah lebih dari cukup dan tidak berat dibawa kemana-mana. Toh, tujuannya untuk menghadirkan rasa senang di hati sendiri. Sudah hampir tidak pernah lagi tangan menenteng DSLR atau Mirrorless.

Sampai kapan tujuan ini bertahan? Entahlah, saya tidak tahu. Hanya, melihat perkembangan tim LB Digital, saya pikir dan harap terus begini. Saya lebih menikmati keseruan berburu momen secara bebas dibandingkan mengejar duit.
Lagi juga, kemampuan anak-anak dalam tim yang ada sudah sangat mumpuni dan yang terpenting, selama ini genre yang merupakan passion sendiri sudah saya temukan, yaitu fotografi jalanan yang kurang cocok untuk diduitin. Selama ini terasa ada ganjalan karena tidak bisa sepenuhnya bebas meski mengerjakan proyek memotret untuk klien.
Nah, dengan melepas bisnis ke tangan anak-anak muda, saya sekaligus melepaskan uang sebagai tujuan dan bergeser ke dunia kebebasan.
Itulah “tujuan-tujuan fotografi” saya. Berubah-ubah, tetapi menurut saya sih wajar saja, karena saya seorang manusia.
Bagaimana dengan kamu? Apa tujuan fotografimu? Boleh berbagi di bawah?






