Satu pekerjaan sebagai fotografer yang sebenarnya menyebalkan buat saya adalah mengedit foto. Entah mengapa, tetapi sejak pertama kali terjun ke dunia ini, mengubah sebuah foto menjadi sesuai keinginan bukanlah hal yang menyenangkan.
Mungkin, karena saya pilih menekuni street photography atau fotografi jalanan yang menekankan pada ‘apa adanya’. Mungkin juga karena, sejak punya tim LB Digital, saya lebih suka menyerahkannya kepada mereka-mereka yang muda.
Tetapi, sangat mungkin juga, saya memang malas saja.
Kalaupun harus terpaksa, atau sedang iseng, editing yang dilakukan saya batasi hanya pada perbaikan pada kontras (contrast), kecerahan (brightness), atau ketajaman (sharpness) saja. Tentu saja, cropping masuk dalam daftar.
Itupun seringnya malas melakukannya.
Sekarang, dan untungnya – saya merasa beruntung sekali -, masalah kemalasan itu terpecahkan.
Saya masih mengedit, tetapi tidak mengedit. Yang saya lakukan hanyalah membuka Gemini, si AI, dan kemudian menyuruhnya melakukan editing. Saya hanya menjelaskan mau saya foto ini dibuat begini dan begitu.
Seperti ada asisten.
Menyenangkan, walaupun terkadang sang ‘asisten’ seenak udel dan memberikan hasil yang tidak memuaskan, tetapi mayoritas hasil bisa diterima. Bahkan, kalau diperhatikan semakin lama dan semakin sering instruksi diberikan, sepertinya dia semakin mahir.
Toh juga, kebanyakan foto yang diedit bukan untuk klien. Saya tidak melakukan hal itu lagi dan tim LB Digital yang melakukannya. Semuanya untuk pribadi, yaitu untuk blog-blog yang ada.
Perubahan yang dilakukan pun tidak besar-besaran dan hanya sekedar perbaikan minor.
Dan, si Gemini mampu melakukan itu dengan baik dan tentunya cepat. Waktu saya bisa dihemat karenanya.
Oleh karena itu, saya tidak menafikan pemakaian AI, baik Gemini atau Cloud atau apapun dalam pengolahan foto/image.
Pandangan saya adalah kalau teknologi menyediakan sarana untuk mempermudah pekerjaan, kenapa tidak? Bukankah dunia fotografi juga sudah mengadopsi banyak hal yang mempermudah hidup fotografer?
Contohnya, kamera digital sebagai pengganti kamera analog. Bisa juga sistem auto-focus sebagai penerus fokus manual.
Lalu, kenapa AI tidak bisa? Kenapa ia tidak bisa atau dilarang dipergunakan untuk menggantikan Photoshop atau Lightroom?
Setidaknya begitu pemikiran saya. Entah kalau Anda.






