Kamera Kelas Entry Level Bukan Hanya Untuk Pengguna Pemula

Ada sedikit kesalahpahaman atau mispersepsi di kalangan masyarakat tentang cara memandang berbagai kelas kamera yang ditawarkan oleh penjual. Seperti diketahui bersama, setidaknya berdasarkan penggunanya, ada kamera dikategorikan dalam 3 kelas, yaitu

  1. Kamera Entry Level : yang disebutkan sebagai kamera untuk para pemula, contoh kamera Canon 1300 D atau Nikon D3500
  2. Kamera Middle Level : diperuntukkan untuk mereka yang pengetahuan dalam dunia fotografinya sudah lebih maju, seperti Canon EOS 70D atau Nikon D5300
  3. Kamera Professional Levl : bagi mereka yang sudah sangat mahir dan ahli , seperti kamera full frame, Canon Eos 5D Mark III atau Nikon D5 atau D850

Pengekelasan seperti ini seperti mengarahkan pembelian diarahkan pada “kemampuan memotret” yang dimiliki seseorang. Seorang pemula seperti disarankan untuk membeli saja kamera kelas entry level dan tidak perlu membeli kelas profesional. Toh, memotretnya saja belum benar.

Padahal, seharusnya tidak demikian cara memandangnya.

Pemberian kelas seperti ini sebenarnya lebih didasarkan pada harga, kapasitas, dan fitur yang disediakan oleh produsen untuk kelas tertentu. Sebuah kamera entry level akan berharga sangat murah dan terjangkau oleh hampir semua orang. Dibandingkan dengan kelas-kelas di atasnya, tentu saja kamera entry level akan memiliki harga paling rendah dibandingkan yang lain.

Sebagai kompensasinya, kemampuan dan fitur yang disediakan bagi pembelinya juga berada pada peringkat paling bawah.

Ada harga, ada rupa, ada kemampuan.

Tetapi, seorang yang sudah sangat mahir dalam fotografi tidak berarti tidak “boleh” dan tidak disarankan untuk bisa membeli kamera kelas ini. Boleh-boleh saja.

Sebaliknya, meskipun seorang sama sekali tidak paham tentang memotret, tetapi ia ingin membeli kamera full frame yang jelas di atas kelas kamera entry level, ya tidak masalah. Tidak ada yang melarang.

Syaratnya cuma satu, yaitu mampu membayar harga yang ditetapkan oleh penjual. Itu saja. Penjual dan produsen tidak akan pernah bertanya terlalu detail tentang kemampuan memotret seorang pembeli. Selama mereka bisa menjual barangnya dan mendapatkan keuntungan, ya tidak masalah. Mau entry level atau profesional level, selama untung, penjual tidak akan mempermasalahkannya.

Hal ini terlepas dari bagaimana hasil fotonya dan apakah akan sesuai dengan kebutuhan yang berkaitan dengan kemampuan memotret seseorang.

Seorang yang sudah mahir dalam mengoperasikan kamera dan memiliki keahlian memotret yang baik, tetap saja akan bisa menghasilkan foto yang bagus bahkan dengan kamera entry level. Sementara seorang yang kaya dan punya uang berlimpah dan mampu membeli kamera full frame tetapi tidak memiliki skill memotret, memiliki peluang lebih kecil untuk mendapatkan hasil jepretan yang bagus.

Prinsip “The man behind the gun” berlaku dalam hal apapun. Manusianya lah yang menentukan.

Kecuali, kalau kemudian dua orang ahli fotografi yang sama-sama jago dalam bidang ini dibandingkan. Yang satu memakai kamera entry level dan satu memakai kamera kelas pro. Yang memakai kamera kelas pro sangat mungkin menghasilkan foto yang lebih baik dibandingkan yang memakai kamera kelas entry level. Hal itu dikarenakan ketajaman hasil, kemampuan lensa, dan banyak hal lain dari kamera kelas pro memang lebih baik dan berkualitas dibandingkan sejawatnya di entry level.

obyek foto di jalanan itu banyak sekali 2

Calon pembeli kamera haruslah paham bahwa membeli kamera hanya berdasarkan kelas yang ditawarkan penjual tidak akan memuaskan. Pembelian kamera haruslah didasarkan pada

  1. Budget atau anggaran yang tersedia : kalau memang budgetnya hanya cukup untuk membeli kamera entry level, jangan paksakan membeli kamera kelas pro. Hal itu akan memberatkan karena berarti harus berhutang. Lagipula biaya perawatan dan perangkat tambahan kamera kelas profesional pastinya lebih mahal, seperti contohnya lensa yang dipakai atau spare part ketika kamera mengalami kerusakan
  2. Kebutuhan : kalau hanya sekedar untuk merekam kehidupan sehari-hari, atau memotret untuk mengisi waktu luang, memamerkannya di media sosial, atau untuk selfie, maka penggunaan kamera kelas pro adalah mubazir. Tidak banyak gunanya karena tidak “menghasilkan” apa-apa. Tetapi, kalau seseorang ingin menjual jasanya kepada orang lain, yang artinya harus memberikan yang terbaik kepada pengguna jasanya, kamera kelas pro akan memberikan keuntungan dalam hal ini.

Tetapi, lagi-lagi tidak berarti tidak boleh dan harus membeli kamera sesuai dengan kemampuan memotretnya. Silakan saja membeli kamera yang Anda suka. Tidak ada yang melarang.

Selama Anda senang, dan tidak merasa diberatkan, ya tidak boleh dan bisa menghentikan. Iya tidak?