Prinsip Buy Books Not Gear : Beli Buku Bukan Alat (Kamera)

Buy books not gear.  Beli buku bukan alat (kamera). Karena blog ini membahas tentang dunia fotografi, jadi alat dalam hal ini adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kamera. Bukan peralatan memasak atau peralatan pertukangan.

Prinsip yang mungkin terdengar aneh. Bidangnya fotografi tetapi disarankan untuk membeli buku. Padahal kamera memegang peranan penting dalam kehidupan seorang fotografer, tanpa kamera tidak akan ada yang namanya fotografer.

Yah, memang benar sekali bahwa kehidupan seorang fotografer tidak bisa lepas dari yang namanya kamera. Tanpanya, maka tidak akan ada dunia fotografi. Istilah fotografer tidak akan pernah lahir.

Tidak salah sama sekali.

[siteorigin_widget class=”WP_Widget_Media_Image”][/siteorigin_widget]

Cuma.. ada cumanya. Ingat juga bahwa tanpa ada manusia, maka kamera tidak akan lahir dan fotografi juga tidak akan ada.

Itu kenyataannya.

Fotografi lahir dari ide dan keinginan manusia agar bisa merekam momen-momen dalam kehidupannya yang dianggap bermakna, penting, dan pantas dikenang.

Jadi, bisa dikata fotografi dan fotografer sebenarnya merupakan gabungan dari dua hal , yaitu alat (kamera) dan manusianya. Tidak bisa hanya salah satunya saja.

Besaran persentasenya, terserah masing-masing untuk menentukannya, tetapi kedua unsur itu harus ada.

Iya kan?

Sayangnya, seiring dengan perkembangan teknologi, banyak anggapan yang membuat seakan-akan “alat” lebih menentukan dibandingkan dengan unsur lainnya, manusia. Tidak sedikit yang berpikiran untuk menghasilkan sebuah foto yang bagus itu cukup dengan membeli kamera paling canggih dan mahal saja.

Setelah itu, tinggal menekan tombol dan hasilnya pasti membuat orang terkesima.

Tidak mengherankan jika kemudian perdebatan dan diskusi membahas tentang kecanggihan kamera menjadi lebih dominan dibandingkan dengan diskusi tentang teknis pengambilan foto, pencahayaan, dan sejenisnya.

Padahal, sebenarnya tidak demikian.

Coba saja berikan sebuah kamera Canon EOS 7D kepada seorang anak berusia 10 tahun yang belum pernah memegang kamera. Berapa persentase kemungkinan hasilnya akan enak dilihat? Jawabannya, sangat kecil sekali.

Ia akan tetap bisa memotret dan menghasilkan foto, tetapi apakah yang melihat langsung kagum? Mungkin iya melihat betapa royalnya orangtuanya membelikan kamera mahal. Bukan pada hasilnya.

Hal yang sama sebenarnya berlaku dalam bidang apa saja. Manusia, operatornya akan memegang peranan sangat penting dibalik keberhasilan. Bukan alatnya.

[siteorigin_widget class=”SiteOrigin_Widget_PostCarousel_Widget”][/siteorigin_widget]

Hal yang sama berlaku bagi orang dewasa. Tanpa pengetahuan, ia tidak beda dengan si anak kecil tadi yang tidak tahu cara menggunakannya.

Berbekal buku panduan kameranya, ia tetap akan bisa memotret. Hanya saja, hasilnya tetap tidak akan bagus dan enak untuk dilihat.

Intinya, seberapapun mahal kameranya, kalau pengetahuan yang memegangnya tidak cukup, hasilnya juga tidak akan bagus.

[siteorigin_widget class=”WP_Widget_Media_Image”][/siteorigin_widget]

Prinsip buy books not gear adalah sebuah usaha untuk mengembalikan, atau untuk menyadarkan kepada semua orang bahwa ada yang lebih penting dari sekedar alat.

Manusianya.

Fotografernya.

Dibandingkan berfokus pada membeli peralatan/kamera, ia harus berusaha untuk menekankan pada usaha memperkaya dirinya sendiri. Ia harus terus mencoba mengembangkan  skill dan pengetahuannya baik dalam hal mengoperasikan kameranya, menghasilkan foto, atau mengeditnya. Inilah makna dari “Buy books” yang artinya “beli buku-buku” sebagai simbol memperbanyak pengetahuan.

Lukisan terkenal dunia tidak akan dinilai dari berapa mahal harga kanvas, kuas, atau cat yang dipakai, tetapi dilihat dari hasilnya.

Seorang pelukis yang tahu mengekspresikan diri (termasuk di dalamnya pengetahuan dan kemampuannya) akan lebih berpotensi mengundang decak kagum dibandingkan mereka yang sekedar mampu membeli kanwas dan kuas yang mahal.

Begitu juga dalam fotografi.

Seorang fotografer yang handal akan dinilai dari hasil karyanya. Bukan seberapa banyak uang yang dikeluarkannya untuk membeli kamera dan peralatannya.

Dari sanalah pemikiran beli buku bukan alat (kamera) lahir.

Jadi, daripada berbicara terus tentang mana kamera terbaik di dunia, lebih baik membeli buku tentang bagaimana cara memotret yang baik.

Mungkin karena itulah LB Fotografi mengadopsi salah satu interpretasi dari prinsip Buy Books Not Gear ini dengan mengatakan ” Fotografi bukan sekedar tentang kamera”.