Bayangan Pada Foto Produk : Bagus Kah? Buruk kah

Bukan hal besar, tetapi tidak jarang menghasilkan perdebatan berkepanjangan yang sampai sekarang pun masih terus berlangsung dalam dunia fotografi. Hanya terkait dengan bayangan saja, yang wajar saja muncul akibat adanya cahaya yang mengarah pada obyek

Dalam keseharianpun, tidak pernah ada yang terlalu peduli tentang bayangan. Namun, hal sepele ini bisa menjadi masalah, yaitu ketika ada bayangan pada foto produk.

Sepele kan? Tidak juga sih. Buktinya, banyak sekali klien jasa fotografi yang memilih dan complain ketika foto produk yang mereka minta menampilkan bayangan, meski hanya sedikit. Cerita yang pada ujung berakhir dengan pemakaian photo editing software untuk menghilangkan bagian tersebut.

Masih untung jika kejadiannya hanya pengguna jasa yang mengeluh, bukan marah-marah dan menolak membayar.

Tidak heran banyak fotografer produk yang berjuang keras dengan berbagai jenis peralatan berusaha menghindari kehadiran bayangan dalam foto produk pesanan klien. Tidak sedikit yang lebih rela menambahkan lighting demi menghindarkan hal yang satu ini.

Namun, di sisi lain ternyata ada klien yang fine-fine saja saat foto produknya mengandung bayangan, bahkan dalam ukuran besar.

Jadi, ada dualisme dalam penilaian terkait bayangan pada foto produk. Ada yang berpendapat baik alias tidak masalah, ada juga yang tidak.

Bayangan pada foto produk, baik kah? Buruk kah?

Pertanyaan yang sederhana, tetapi menjawabnya sangat sulit. Semua itu karena penilaian terhadap hasil karya foto bukanlah ilmu pasti. Tidak ada rumus, tidak ada batasan yang bisa dipergunakan untuk mengukur penilaian.

Sifat penilaian terhadap foto adalah subyektif, tidak ada yang obyektif. Semua akan tergantung pada pendidikan, wawasan, selera, nilai estetis yang dianutnya, dan bahkan mood dari sang penilai.

Semua sifatnya subyekif. Jadi, tidak bisa diharapkan ada jawaban yang jelas terhadap pertanyaan yang satu ini.

Di beberapa masa lalu, foto produk memang diusahakan sebersih mungkin. Bayangan merupakan sesuatu yang sangat tidak diinginkan. Namun, sejak tahun 2000-an, pandangan ini mulai bergeser.

Mulai banyak yang justru melihat bayangan menambah kesan alami, originalitas produk, dan menghadirkan kesan estetis yang tidak kaku. Jadi, mereka yang berada dalam kategori ini tidak merasa berkeberatan tentang kehadiran bayangan dalam foto produk.

Mana yang harus dipilih? Mana yang lebih baik?

Pada dasarnya, tidak ada yang lebih baik dari yang lainnya. Sesuatu yang subyektif lebih baik dipertimbangkan berdasarkan selera dan tujuan dari pembuatan foto produk tersebut.

Jika foto itu dipergunakan untuk dipasang toko online atau marketplace, seperti Tokopedia atau Shopee, maka tanpa bayangan akan lebih baik. Mata para pembelanja di kedua layanan marketplace itu memang berniat mencari barang yang hendak dibeli. Oleh karena itu kehadiran bayangan agak mengganggu karena membuat fokus pembelanja sedikit teralihkan ke nilai estetis.

Untuk memastikan perhatian pembelanja pada produknya, seringkali fotopun diedit dan dibuang latar belakangnya dan diganti dengan putih.

Jadi, jika tujuannya untuk melakukan sales, seperti di toko online, sebaiknya bayangan jangan dihadirkan ke dalam foto.

Berbeda halnya, kalau foto produk tersebut akan dipakai untuk pembuatan banner iklan, billboard, atau alat promosi yang menekankan pada tujuan branding atau pengenalan produk, bukan penjualan. Bayangan justru bisa dipakai untuk menarik perhatian karena nilai estetisnya.

Bayangan Pada Foto Produk Bagus Kah Buruk kah 2

Promosi bersifat branding tidak ditekankan pada pengenalan produk, tetapi lebih pada menanamkan citra. Contohnya saja iklan rokok yang biasanya produknya bahkan tidak ditampilkan. Iklan jenis ini lebih bebas.

Jadi, keberadaan bayangan dalam foto produk bisa menjadi daya Tarik tersendiri atau setidaknya tidak akan mengganggu.

Oleh karena itu, sebaiknya tidak perlu ikut dalam perdebatan terkait hal yang satu ini. Bisa dijamin pro dan kontra-nya akan berlangsung lama dan tidak pernah selesai. Sifat diskusi yang tanpa standar yang jelas adalah tanpa ujung.

Bila Anda ragu mana yang lebih baik, ada baiknya tidak perlu mencari referensi di internet. Ada yang lebih baik lagi, yaitu “TANYAKAN PADA PENGGUNA JASA!”. Mereka yang akan memakai foto produk tersebut.

Mereka pembuat keputusan dalam hal ini karena mereka membayar jasa. Tugas seorang fotografer professional adalah memenuhi permintaan kliennya (selama memungkinkan) dan kalau ada keraguan, minta kriteria atau standar yang dipergunakan. Perjelas!

Dengan mengetahui kemauan pengguna jasa, hal itu menghapus keraguan yang hadir karena ketiadaan standar. Standar itu sudah ada, yaitu standar si pengguna jasa. Anda hanya perlu mengeksekusinya.

Baca juga

Pengaruh Perubahan Setting Aperture Terhadap Shutter Speed

Pengaruh Perubahan Setting Aperture Terhadap Shutter Speed

Aperture atau diafragma merupakan salah satu istilah penting karena merupakan bagian dari konsep Segitiga Aperture, Bersama dengan ISO dan Shutter Speed (kecepatan buka rana/diafragma). Ketiganya…

Tujuan Menekan Tombol Shutter Separuh Saat Memotret Dengan Kamera DSLR/Mirrorless

Tujuan Menekan Tombol Shutter Separuh Saat Memotret Dengan Kamera DSLR/Mirrorless

“Tekan separuh/setengah dulu. Jangan langsung ditekan habis!”, begitu biasanya instruksi dari fotografer senior kepada mereka yang baru saja belajar memegang kamera DSLR atau Mirrorless. Pelajaran…

Bila Anda membuat foto produk untuk diri sendiri alias berlatih, tidak perlu memilih. Keduanya memiliki pasar. Memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk menghasilkan foto produk, yang berbayang atau tidak, tidak ada ruginya.

Yang pasti, tidak perlu ikut dalam perdebatan karena hanya membuang waktu.

Leave a Comment