Mengenal Istilah Golden Hours atau Jam (Waktu) Keemasan

Istilah “Golden Hours” atau “Jam (Waktu Keemasan)” sering dipakai dalam fotografi outdoor. Tidak sedikit fotografer senior yang memberi saran kalau mau mendapatkan hasil foto “terbaik”, sebaiknya pemotretan dilakukan pada periode tersebut.

Sebenarnya apa sih istilah Golden Hours itu?

Istilah ini mengacu pada “periode waktu” dimana matahari sedang tidak memancarkan sinarnya secara maksimal karena terhalang oleh satu dan lain hal.

Contohnya saja, di saat pagi hari ketika matahari baru saja terbit, menurut teori, sinar matahari harus menempuh jarak terjauh. Selain itu, sinar matahari juga masih harus menembus atmosfer yang mengandung lebih banyak uap air/embun. Hasilnya adalah sinar matahari yang masih terasa lembut dan tidak terik.

Kondisi seperti ini tentu sangat menguntungkan saat memotret karena cahaya yang dihasilkan akan terekam lembut (soft) pada foto. Situasinya akan berbeda sekali kalau memotret di kala sinar matahari bersinar terik dimana hasil foto akan terasa “menyilaukan” dan memberi kesan “panas” bagi yang melihat.

Para Blogger - Pasang Foto Ukuran Besar Pada Blogmu
Contoh foto hasil pemotretan di luar golden hours

Pada saat ini juga sinar matahari masih terlihat kuning keemasan dibandingkan agak putih saat di siang hari. Dari sanalah istilah Golden Hours atau Jam/Waktu Keemasan berasal.

Periode Golden Hours ada dua setiap harinya, yaitu

  • 1-3 setelah matahari terbit
  • 1-2 jam sebelum matahari terbenam

Golden Hours tidak sama di setiap wilayah

Namun, yang perlu dicatat adalah jam keemasan ini tidak sama di setiap daerah. Tidak berlaku umum. Semua masih tergantung dengan karakter dan lokasi wilayah masing-masing.

Contohnya saja, di Bali, di wilayah Pantai Nusa Dua, pada saat waktu menunjukkan pukul 06.30, yang secara teori masuk ke dalam periode waktu keemasan, sinar mataharinya sudah terasa terik sekali.

Pantai Nusa Dua Bai dipotret pada pukul 07.08

Jadi, untuk bisa mendapatkan cahaya keemasan matahari, seorang fotografer harus memahami juga karakter di wilayahnya. Tidak seharusnya mengikuti teori golden hours dari wilayah lain.

Tantangan

Salah satu tantangan terberat untuk bisa memotret di periode waktu keemasan ini ada dua.

Yang satu bernama “cuaca”. Direncanakan seperti apapun, meski hari sebelumnya cuaca cerah, tidak berarti Anda akan bisa bertemu di si Golden. Bisa saja keesokan harinya hujan turun sejak pagi hari dan pasti akan menghancurkan semua rencana.

Turunnya hujan pasti akan berbarengan dengan awan mendung yang menutupi sang surya. Kalau sudah begini, hanya pasrah yang bisa dilakukan.

Yang kedua adalah faktor internal, namanya “kemalasan”. Ketika matahari sudah di ufuk, sedangkan fotografernya pilih meringkuk di dalam selimut, hasilnya akan sama.

Tips

Tips untuk bisa memotret saat Golden Hour tidak sulit, hanya tetap butuh kedisiplinan dan sedikit capek.

  • bila Anda berada di daerah lain, jangan ragu untuk bertanya kapan matahari terbit dari orang sekitar
  • jangan tidur terlalu larut karena hal itu memperkecil peluang bisa bangun tepat waktu
  • keluar lebih awal dari informasi yang didapat. Jadi kalau info mengatakan matahari terbit pukul 06.00, keluar dari peraduan sekitar pukul 05.00. Dengan begitu hampir pasti waktu tersebut tidak akan ditemukan
  • cari wilayah yang agak “kosong” agar cahaya matahari tidak terhalang bangunan atau pepohonan
Istana Bogor dipotret pada pukul 09.08

Bagaimana siap bangun pagi dan bertemu dengan si Golden Hours?

Leave a Comment