Pengaruh Perubahan Setting Aperture Terhadap Shutter Speed

Aperture atau diafragma merupakan salah satu istilah penting karena merupakan bagian dari konsep Segitiga Aperture, Bersama dengan ISO dan Shutter Speed (kecepatan buka rana/diafragma). Ketiganya berpengaruh pada volume cahaya yang akan diterima sensor.

Dalam konsep ini, perubahan salah satu unsur akan membawa efek (perlu dilakukan) perubahan juga pada salah satu atau kedua unsur lainnya. Selalu ada efek jika setting salah satu diubah.

Oleh karena itu, bila Anda melakukan perubahan setting aperture atau bukaan rana, ada baiknya juga memperhatikan pengaturan ISO atau Shutter Speed yang ada, jika Anda menggunakan mode manual.

Sebagai gambaran, silakan diimajinasikan

1/ Ilustrasi 1

Ketika Anda memotret pemandangan setelah mengambil foto bokeh dengan setting bukaan aperture lebar f/1.8. Padahal, untuk landscape membutuhkan bukaan aperture rata-rata f/5.6 – 12.

Selesai pengubahan setting, jangan langsung memotret. Foto yang dihasilkan akan sangat gelap.

Mengapa? Karena dengan bukaan yang lebih sempit, seperti f5.6 -12, volume cahaya yang masuk mengenai sensor jumlahnya mengecil. Otomatis kalau Anda ingin mendapatkan kecerahan foto yang sama, Anda harus mengubah baik setting ISO atau shutter speed.

Mengubah setting ISO tidak begitu disarankan karena jika terlalu tinggi akan menimbulkan noise. Lagi pula foto landscape akan lebih baik diambil menggunakan ISO rendah karena menghasilkan detail yang lebih bagus.

Jadi, pilihannya adalah mengubah shutter speed.

Volume cahaya yang mengecil bisa diatasi dengan memberikan waktu yang lebih lama. Jadi, setting yang harus dilakukan pada shutter speed adalah membuatnya terbuka lebih lama, lebih lamban.

Seberapa lama? Tergantung pada kondisi pencahayaan di lokasi pemotretan, tetapi jelas harus lebih lama dibandingkan ketika menggunakan f/1.8.

Catatannya, kalau terlalu lamban dan berada di bawah 1/100 detik yang dibutuhkan, akan hadir masalah berikutnya yaitu kemungkinan blur karena kamera bergoyang.

2/ Ilustrasi 2

Sekarang kondisinya dibalik. Anda baru selesai memotret pemandangan indah dengan memakai f/11. Lalu, ada rekan Anda seorang gadis cantik meminta dibuatkan foto portrait.

Otomatis, Anda akan menekankan pada bokeh dan menonjolkan obyeknya. Maka, setting aperture yang cocok adalah f/1.8. Dengan kata lain, Anda mengharapkan lensa gagal fokus pada background dan membuat obyek lebih muncul.

Jika Anda hanya mengubah setting aperture saja, bisa dipastikan Anda membuat kesalahan. Hasil fotonya tidak akan bokeh, tetapi akan overexposure atau terlalu terang. Sangat bisa jadi bahkan Sebagian besar akan berwarna putih.

Hal itu disebabkan karena jumlah cahaya yang berlebihan.

Kok bisa? Bukaan aperture f/1.8 akan membuat diafragma terbuka lebar sekali. Tidak beda halnya dengan jendela atau pintu, ketika terbuka lebar, maka volume cahaya akan berlimpah.

Tambahkan dengan setting f/11, bukaan sempit, yang membutuhkan shutter speed lambat, yang artinya waktu cahaya untuk masuk lama sekali. Pintu atau jendela yang terbuka lebih lama akan membuat volume cahaya yang masuk bertambah juga.

Hasil foto, bisa dipastikan gagal karena terlalu terang.

Pemecahannya adalah, abaikan ISO karena sebaiknya tetap berada di level rendah, dengan mengurangi shutter speed menjadi lebih cepat. Dengan begitu besarnya cahaya yang masuk dapat dikurangi dengan memperpendek waktu.

Baca Juga

Bayangan Pada Foto Produk : Bagus Kah? Buruk kah

Bayangan Pada Foto Produk Bagus Kah Buruk kah

Bukan hal besar, tetapi tidak jarang menghasilkan perdebatan berkepanjangan yang sampai sekarang pun masih terus berlangsung dalam dunia fotografi. Hanya terkait dengan bayangan saja, yang…

Tujuan Menekan Tombol Shutter Separuh Saat Memotret Dengan Kamera DSLR/Mirrorless

Tujuan Menekan Tombol Shutter Separuh Saat Memotret Dengan Kamera DSLR/Mirrorless

“Tekan separuh/setengah dulu. Jangan langsung ditekan habis!”, begitu biasanya instruksi dari fotografer senior kepada mereka yang baru saja belajar memegang kamera DSLR atau Mirrorless. Pelajaran…

Bila dibuat sedikit kesimpulan, maka

  • Semakin lebar bukaan aperture membutuhkan shutter speed yang semakin cepat
  • Semakin sempit bukaan aperture memerlukan shutter speed yang semakin lamban

Pengetahuan tentang korelasi antara bukaan diafragma dan shutter speed ini bukan hanya membantu mengatasi masalah under atau over exposure. Pengetahuan ini juga bisa dimanfaatkan untuk berkreasi dengan memainkan setting keduanya.

Oleh karena itu, tidak salah kalau mayoritas fotografer, terutama yang senior mengajarkan para yunior untuk mempelajari masalah Segitiga Exposure sebagai langkah pertama.

Leave a Comment