9 + 1 Tips Berpose di Depan Kamera (Menjadi Model Dadakan)

Ada sebuah hal yang aneh terjadi pada banyak orang. Dalam kehidupan sehari-sehari berpose di depan kamera, terutama di zaman digital seperti sekarang, bukanlah sesuatu yang tidak umum.

Di masa dimana semua orang membawa kamera setiap harinya, hampir tidak ada orang yang tidak pernah melakukannya. Mereka pasti sudah akrab bergaya di depan kamera, baik untuk diri sendiri, seperti selfie atau saat bercengkerama dengan keluarga atau kawan saat berwisata atau kongkow di kafe.

Menjadi “model” bagi kamera adalah bagian dari kehidupan di zaman digital seperti sekarang.

Lucunya, seringkali ketika mereka diminta secara formal oleh fotografer atau penghobi fotografi, banyak yang langsung mundur teratur. Berbagai alasan, seperti “tidak biasa berpose”, merasa tidak cukup cantik untuk menjadi model, tidak bisa bergaya dan segudang alasan lainnya, akan dikemukakan.

Aneh sekali, bukan begitu? Mengapa kalau dipotret oleh kawan atau keluarga memakai kamera smartphone, mereka bersemangat dan bisa bergaya banyak, tetapi ketika hendak dipotret fotografer dengan kamera DSLR atau Mirrorless, mundur teratur dan tidak berani tampil.

Pernah tahu alasannya?

Alasan ketidaknyamanan berpose di depan kamera

7 Tips Berpose di Depan Kamera (Menjadi Model Dadakan) 2
In frame Hendy Hermawan

Percaya atau tidak, sikap paradoks itu disebabkan karena alasan yang sangat manusiawi dan punya penjelasan.

a> Tidak nyaman : menjadi model kawan atau keluarga tidak pernah menjadi masalah karena fotografernya adalah orang yang dikenal

Lingkungannya menjadi nyaman untuk bisa berekspresi secara lepas dan bebas. Berbeda ketika yang memegang kamera adalah orang lain. Seorang fotografer, meski dibayar sekalipun tetaplah orang asing yang biasa membuat orang berhati-hati dan mengambil sikap defensif.

Orang cenderung menahan diri dalam situasi yang kurang nyaman bagi dirinya.

b> Merasa kurang pengetahuan : berpose di depan kamera smartphone, di hadapan kawan atau keluarga, tidak memerlukan pengetahuan khusus. Lakukan saja sebisanya berdasarkan hasil baca sana sini atau mencontek dari apa yang pernah dilihat. Toh, juga kawan atau saudara yang memotret sama-sama tidak punya ilmu dalam bidang yang satu ini.

Namun, berhadapan dengan “fotografer” yang sudah terbiasa berhadapan dengan model, pastinya tidak akan cukup dengan pengetahuan ala kadarnya. Berbagai pertanyaan timbul, seperti “Bagaimana kalau si fotografer tidak puas dengan pose yang ditampilkan?” “Bagaimana kalau foto yang dihasilkan jelek, apakah saya akan disalahkan?”

Hasilnya adalah percaya diri yang langsung turun drastis.

c> Mendadak Minder : model, dalam benak banyak orang, adalah seseorang yang memiliki kecantikan fisik. Oleh karena itulah mereka dipilih untuk menebarkan idealisme tentang apa itu indah, cantik, atau ganteng.

Too bad, hasilnya adalah terbentuk pandangan bahwa seorang model harus selalu memiliki kecantikan fisik, sedangkan yang tidak atau “biasa saja”, tidak memilih hak untuk menjadi model.

Tidak heran, secara tidak sadar, ketika seseorang diminta menjadi model bagi sebuah pemotretan, pertanyaan pertanyaan, seperti “Saya kan orang biasa yang tidak cantik atau menarik. Bagaimana kalau orang mencela dan tidak menyukai saya yang tidak cantik?

Rasa minder biasa mendadak muncuk karena secara tidak sadar sudah langsung membandingkan diri dengan model-model yang sering terlihat di televisi atau media sosial lainnya.

d> Mendadak Malu : kawan atau keluarga memang menghadirkan suasana nyaman dan “aman”. Mau gaya yang ditampilkan urakan dan jelek sekalipun tidak akan menjadi masalah. Toh, masih dalam lingkungan sendiri. Paling jelek, hanya akan jadi bahan tertawaan di lingkungan kecil yang kita kenal.

Namun, berbeda dengan kalau berhadapan dengan orang lain, seorang fotografer. malu dong kalau terlihat jelek, tidak berpengetahuan, tidak cantik, dan tidak menarik di depan orang tak dikenal. Apalagi kalau nantinya foto itu disebarkan melalui media sosial, makin banyak saja yang tahu ketidakmampuan kita.

Inti dari banyaknya orang yang gagap, canggung, ragu ketika diminta berpose di depan kamera ada pada perubahan lingkungan, kekhawatiran tidak bisa memenuhi ekspektasi dari orang lain, dan kekhawatiran terlihat jelek di mata orang lain.

Hal-hal yang wajar terjadi pada diri semua manusia. Bagaimanapun, kita adalah makhluk sosial. Manusiawi sekali.

Namun, sebenarnya ada beberapa usaha kecil yang bisa dilakukan saat berpose di depan seorang fotografer, baik gratis atau berbayar. Dengan usaha-usaha kecil ini, hambatan psikologis yang kerap hadir bisa diatasi, atau sedikitnya diminimalisir.

Hasilnya diharapkan sesi pemotretan dapat berlangsung dengan lancar dan hasil yang memuaskan semua pihak bisa didapat. Fotografer senang, modelnya pun senang.

Mau tahu seperti apa, bisa dilihat di bawah ini.

9 + 1 Tips Berpose di Depan Kamera

Yang harus dilakukan sebenarnya bukanlah hal-hal khusus yang membutuhkan pengetahuan khusus juga. Jadi, sebenarnya tidak ada alasan tidak bisa dilakukan dan pada dasarnya semua orang sudah melakukannya.

Tidak percaya? Coba saja sendiri.

1> BERKENALAN

Lah? Ingat! Salah satu penyebab utama dari sikap canggung adalah karena berada di lingkungan, berhadapan dengan orang, yang asing alias tidak dikenal.

Pemecahannya adalah buat menjadi tidak asing dan hal itu bisa dilakukan dengan berkenalan. Ulurkan tangan sambil menyebutkan nama dan berjabat tangan.

Tidak berarti bahwa rasa canggung akan 100% menguap, tetapi langkah awal ini akan mencairkan suasana.

2> NGOBROL

Setelah bersalaman, lanjutkan dengan membuka perbincangan dengan sang fotografer dan timnya. Mereka juga manusia kok dan pasti merupakan makhluk sosial.

Lebih baik kalau perbincangan diisi dengan menanyakan hal-hal yang terkait dengan sesi pemotretan yang akan dilakukan, seperti

  • konsep yang hendak dipakai
  • apa yang harus dilakukan
  • untuk apa pemotretan dilakukan (jika sang fotografer yang meminta)
  • atau apapun yang terlintas di kepala agar terjalin komunikasi antara Anda dengan tim yang akan melakukan pemotretan

Apa gunanya? Langkah ini untuk mencairkan suasana dan membuat semua yang terlibat akan saling mengenal. Pada akhirnya kecanggungan dan kegugupan akan berkurang lagi karena “suasana” berhadapan dengan orang asing akan berkurang juga.

3> RILEKS/SANTUY

Anda bukan sedang berhadapan dengan dosen atau atasan. Jadi, kenapa harus tegang.

Takut salah? Jangan khawatir. Di era kamera digital seperti sekarang, membuat sebuah foto tidak mahal. Jika ada kesalahan hasilnya bisa langsung dilihat dan diperbaiki di tempat.

Buat diri Anda serileks mungkin karena jika hati Anda merasa tenang dan nyaman, biasanya gestur tubuh akan terlihat luwes, natural, dan tidak kaku. Anda juga bisa lebih ekspresif.

4> PERCAYA

Seorang fotografer punya tugas dan terbiasa

  • menemukan keindahan dari obyeknya
  • membuat keindangan dari obyeknya

Percaya kepada fotografer bisa membantu menghilangkan rasa minder dalam diri. Jika sang fotografer yang meminta Anda menjadi model, berarti ia menemukan “sesuatu” yang indah dan menarik dalam diri Anda, yang tidak Anda sadari. Percayakan kepadanya.

Jika Anda membayar untuk berpose, percayakan kepadanya untuk membuat keindahan dengan Anda sebagai obyeknya.

Dengan begitu rasa minder akan bisa dibuang jauh-jauh. Lagi pula, memang pada dasarnya manusia selalu memiliki sisi menarik dan indah kan? Semua manusia loh, hanya terkadang tidak disadari saja.

5> IKUTI INSTRUKSI

Meski bukan atasan, fotografer adalah komandan di sebuah sesi pemotretan. Di kepalanya ada “ide” yang ingin ditampilkan dalam sebuah foto. Ia akan memberikan instruksi tentang apa yang diinginkannya.

Ikuti saja! Coba terjemahkan apa yang disampaikan dalam bentuk gerak tubuh. Lagi pula, biasanya seorang fotografer memiliki lebih banyak pengetahuan pose, jadi ikuti saja arahan yang diberikan.

6> LIHAT HASIL

Jangan kuatir. Seorang fotografer yang baik biasanya dia akan memperlihat hasil jepretan secara berkala dalam satu sesi pemotretan.

Tujuannya untuk memastikan bahwa Anda sebagai model juga puas dan sekaligus merasa terlibat karena memang berada dalam satu tim. Juga dari sana bisa dianalisa kekurangan atau kesalahan.

Kalau sang fotografer tidak melakukan hal ini, MINTA! Minta ia memperlihatkan hasilnya sebelum pose berikutnya.

7> BERI SARAN

Sebuah sesi pemotretan adalah bentuk kerjasama tim. Anda, si model, adalah bagian di dalamnya.

Jika memang ada yang Anda rasa kurang cocok, atau ada ide yang lebih baik, sampaikan kepada sang fotografer. Beri ia saran.

8> ANGGAP SEDANG BERPACARAN

Bagi yang sedang berpacaran, dunia seperti milik berdua, yang lain ngontrak. Iya kan? Makanya banyak dari mereka tidak peduli dengan keberadaan orang lain saat sedang berduaan.

Lakukan hal yang sama saat pemotretan, terutama kalau dilakukan di ruang terbuka dan di depan umum. Anggap saja sedang dipotret oleh pacar, suami. Anda dan fotografer adalah pemilik dunia, orang lain hanyalah pengontrak saja. Tidak perlu dipedulikan.

9> KOMUNIKASI

Ada yang kurang jelas, tanyakan. Ada yang tidak nyaman, ungkapkan. Kepanasan, ngomong jangan diam saja.

Karena merupakan sebuah kerja sama tim, maka komunikasi adalah bagian penting dalam prosesnya. Lakukan terus menerus selama sesi pemotretan.

Dengan coba melakukan ini saja, saya percaya bahwa masalah utama yang dihadapi saat berpose di depan kamera atau menjadi model (dadakan) bisa terpecahkan.

Pada dasarnya hasil yang diharapkan adalah Anda, sebagai model, akan merasa berada di lingkungan yang sudah dikenal dan nyaman. Dengan begitu Anda akan menjadi luwes, lebih lepas, dan ekspresif, persis.

Beberapa kelemahan, seperti pengetahuan tentang pose tidak menjadi masalah karena akan merupakan ranah sang fotografer.

Coba saja sendiri kalau tidak percaya.

—–

+ 1 : MINTA

O ya, jangan lupa setelah sesi pemotretan berakhir, lakukan beberapa hal ini

  • minta hasil fotonya karena sebagai model Anda berhak untuk mendapatkan salinan
  • minta kejelasan atau perjanjian pemakaian foto tersebut karena bagaimanapun Anda memegang sebagian hak cipta dari foto tersebut
  • minta nomor kontak sang fotografer agar komunikasi lanjutan bisa dilakukan dan kalau Anda puas dengan hasilnya, Anda bisa melakukannya lagi di masa datang (dan tidak perlu memulai dari awal lagi)

Leave a Comment